Beda Generasi, Satu Arena: Sepuh dan Anak Muda Taklukkan Lokapasar Digital Dunia
- 30 Agt 2026 00:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah memperkuat regulasi ekosistem digital melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 untuk melindungi konsumen dan mengutamakan produk dalam negeri.
- Kementerian Komdigi dan Kementerian UMKM mendorong transformasi usaha mikro agar beralih dari sekadar masuk platform digital menuju peningkatan produktivitas serta adopsi kecerdasan buatan.
- Pelaku usaha rumahan Sambal RoaRia membuktikan pentingnya penguatan standar mutu dan kejujuran produksi di sektor hulu guna menjamin keberlanjutan pasar domestik maupun ekspor.
Deru perputaran ekonomi digital menampakkan wajah yang berbeda di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur. Fikri, pengusaha madu muda, mengawali langkah wirausaha sejak akhir tahun 2019 sebelum gelombang pandemi Covid-19 melanda.
"Jadi Madu Azura itu kami tuh sebenarnya brand madu yang relatif baru, yaitu sekitar 5 tahunan. Waktu itu kami produksinya sebenarnya dulunya gak banyak, tapi waktu itu pas Covid booming," kata Fikri yang mengenakan kemeja lapangan merah marun dengan emblem jenama Madu Azzura.
Kebutuhan masyarakat terhadap produk peningkat daya tahan tubuh melonjak tajam pada masa pandemi. Fikri memanfaatkan peluang tersebut dengan memformulasi madu herbal bercampur ekstrak daun mint segar.
"Iya, Madu Mint. Jadi madu dikasih herbal mint. Jadi itu bagus banget buat recovery orang Covid," ujar Fikri saat ditemui di kawasan Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Rabu, 13 Agustus 2026.
Inovasi produk terus berlanjut hingga melahirkan dua kategori utama berupa madu murni dan madu herbal. Masing-masing varian memiliki kekhasan rasa yang bersumber dari kekayaan nektar vegetasi alam nusantara.
"Kalau madu murni tuh contoh Madu Odeng Banten, Madu Multiflora, Madu Sumbawa, Madu Kelengkeng—jadi rasa kelengkeng dari pohon kelengkeng. Tapi ada juga madu yang herbal, contoh madu herbal tuh madu hitam, itu dicampur sama herbal seperti habbatussauda," ucap Fikri.
Fikri juga meracik varian madu khusus anak-anak dengan menambahkan ekstrak buah goji beri. Ia merancang produk tersebut guna membantu pemenuhan vitamin dan meningkatkan nafsu makan anak.
"Ada juga Madu Kids yang dikasih Goji Berry, bagus buat vitamin dan nafsu makan anak-anak," kata Fikri.

Keunikan rasa lain hadir lewat olahan madu lebah yang menghisap nektar perkebunan tanaman kopi. Cairan manis tersebut secara alami mengeluarkan aroma serta sensasi rasa seduhan kopi asli.
"Ada juga Madu Kopi yang dari nektar kopi, jadi rasanya bener-bener kayak kopi. Terus Madu Hitam, mint tadi ya, dari Odeng Banten, jadi banyak banget dari seluruh Indonesia, banyak, (ada-red) 20 varian lebih," ujar Fikri.
Proses pengumpulan madu dari para peternak mitra membutuhkan waktu berkisar satu hingga dua bulan. Waktu panen sarang lebah sangat ditentukan oleh siklus mekarnya bunga dan iklim setempat.
"Sebenarnya madu itu beda-beda ya, maksudnya kayak gak bisa 2 minggu, sebulan. Kadang cepat, kadang lambat. Tapi rata-rata 1 sampai 2 bulan. Kenapa begitu? Karena biasanya tergantung musim bunganya, dan juga cuacanya," ucap Fikri.
"Contoh misalkan kalau dia hujan, dia madunya bisa lebih banyak tapi agak kandungan airnya lebih banyak. Sebenarnya masih ditolerir, kayak di bawah 10 persen gitu. Kan madu kan bisa dites tuh, kalau misalkan madu hujan sama madu nggak," kata Fikri.
"Petani madu tuh enggak fix tempatnya, tapi dia suka nomaden. Sarang lebahnya dia itu kan ada box-nya, tapi box-nya ini jadi mobile, suka pindah-pindah. Recommended-nya sebenarnya pindah, Pak, karena biar regenerasi dulu di situ," ujar Fikri.
Fikri sempat mengalami kegagalan pada sejumlah varian rasa yang kurang diminati oleh pasar digital. Uji coba bertahap akhirnya menyaring 20 varian unggulan yang paling laris dipesan konsumen.
"Ada varian apa nih kita cobain, trial dan error juga. Jadi sebenarnya dari banyaknya varian, udah beberapa banyak yang gugur juga. Karena misalkan dia kurang cocok, market-nya kurang, tapi akhirnya kita udah nemuin sekitar 20-an yang paling rame," ucap Fikri.
Fasilitas produksi dan pencampuran madu tersebar di beberapa kota termasuk Jakarta serta Bandung. Fikri memastikan seluruh tetes madu yang ia pasarkan murni bersumber dari peternak lokal Indonesia.
"Soalnya kan gini, madu tuh ada yang Arab juga, ada yang dari Yaman, ada yang dari apa, kan banyak ya? Kalau kami full Indonesia," kata Fikri.
Pusat pengemasan di Jakarta Timur menjadi simpul utama pengiriman barang ke wilayah Jabodetabek. Fikri mengakui secara terbuka bahwa target omzet menjadi motor penggerak utama ekspansi usahanya.
"Motivasinya jelas omzet, karena waktu itu jelas waktu zaman 2020 kan, ini sekitar 2019 akhir. Waktu 2020 itu booming-nya sangat booming, sampai kita produknya habis, habis, habis terus. Akhirnya apa? Ya udah, kita inovasi terus, inovasi," ujar Fikri.
Fikri memutuskan menutup skema titip jual di toko luring demi fokus berniaga daring. Aplikasi lokapasar Shopee menyumbang porsi terbesar hingga 90 persen dari total transaksi penjualannya.
"(Kita-red) 100 persen udah online. Dulunya, saya pakai reseller juga, jadi kayak nitip di toko. Tapi sekarang udah 99 persen online, termasuk Shopee. Shopee tuh mungkin kayak 90 persen," ucap Fikri.
Fikri mengamati peta persaingan niaga elektronik di tanah air secara berkala dan terukur. Ia menilai ekosistem Shopee masih memegang kendali pangsa pasar terbesar di Indonesia.
"Menurut saya emang market dibandingin TikTok masih gedean Shopee. Mungkin kayak 70 persen jualan di Indonesia bisa Shopee menurut saya. Dibandingkan Tokopedia, TikTok, dan teman-teman saya penjual-penjual lain juga ngomongnya sama, Shopee masih nomor satu," kata Fikri.
Keberanian berinvestasi pada iklan berbayar menjadi strategi andalan Fikri dalam merebut pasar digital. Total biaya periklanan yang ia belanjakan dalam tiga tahun telah mencapai angka miliaran rupiah.

Selain jenama madu dan tas grosir, Fikri mengibarkan merek busana muslim perempuan bernama Zenita. Penjualan busana Zenita bahkan mencatatkan perputaran omzet yang jauh melampaui produk madunya.
"Tahun lalu juga Shopee tuh bikin acara Shopee UMKM Juara, Zenita tuh juara 6. Tereliminasi gara-gara salah packing, karena ada challenge salah packing, saya salah. Tapi intinya Zenita tuh kalau produk baju kami itu udah jauh lebih settle," ucap Fikri.
Lini busana Zenita memanfaatkan program Shopee Ekspor untuk merambah konsumen di kawasan Asia Tenggara. Ribuan potong pakaian telah terkirim menuju pembeli di pasar Malaysia dan Singapura.
"Baju saya udah kirim ratusan lah, hampir ribuan deh. Pengiriman ke Malaysia, Singapura banyaknya. Nomor satu Malaysia, nomor dua Singapura," kata Fikri.
Produk pakaian lebih mudah diekspor karena berupa benda padat yang aman selama proses pengiriman. Sebaliknya, madu murni berkualitas tinggi menghasilkan gas alami yang berisiko bocor dalam perjalanan kargo.
"Kalau baju kan aman tuh, baju kan benda mati kan, maksudnya gak bercecer, gak apa. Kalau madu itu emang salah satu tantangannya pengirimannya, Pak. Jadi kalau madu bagus, dia justru banyak gasnya di dalamnya, dan itu bisa bocor di jalan," ujar Fikri.
Fikri menempatkan dirinya sebagai generasi penjual baru yang melesat lewat penguasaan algoritma niaga. Kecepatan adaptasi teknologi menjadikannya salah satu mitra binaan yang diperhitungkan di platform digital.
"Jadi kenapa saya dilirik sama Shopee, karena saya salah satu yang akselerasinya cepat. Jadi saya bukan sepuh, kalau saya dari tiga tahunan," ucap Fikri.
|
Selanjutnya,
Pemerintah merespons
|
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....