Harmoni Berkelanjutan dari Tanah Masam Menjadi Kehidupan di Kawasan IMIP
- 14 Agt 2026 00:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Warga Desa Lele, Morowali, Sulawesi Tengah, aktif mengelola lahan pertanian hortikultura dan kolam ikan sejak pagi hari untuk memastikan hasil panen siap dipasarkan.
- Lahan pertanian di Desa Lele bukan sekadar tempat berkebun biasa, melainkan mencerminkan kisah perubahan dan transformasi dalam sistem pertanian lokal.
- Aktivitas pertanian dan perikanan di desa ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam mengembangkan ekonomi lokal melalui usaha tani yang terkelola dengan baik.
Kelompok masyarakat Berkah Mombula Desa Lele, menjadi salah satu contoh inspirasi dari bagaimana lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian yang memberikan nilai ekonomi. Pembina Kelompok Tani Berkah Mombula Desa Lele Soekarno, mengatakan awal mula kelompok ini bekerja sebagai petani.
Namun sejak adanya Indutri IMIP menjadi peluang untuk mendapatkan hasil dari bertani. “Setelah berproses, IMIP turuntangan dari tahun 2021 melihat dan melakukan pengawalan, pendampingan sampai evaluasi, sehingga terbentuknya kelompok Tani Mombula sebagai salah satu kelompok Tani Pertama di Kecamatan Bahodopi yang terus berkembang jumlah kelompoknya” kata Soekarno, Selasa 22 Juli 2025.
Meskipun sudah dikategorikan lahan di Bohodopi tidak bisa dijadikan lahan pertanian karena pH tanah dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, namun bagi Sokerano, dengan penerapan metode yang bernar, aplikasi yang benar,akan memberikan hasil yang masimal pula. Sejak 2021, kelompok ini mengembangkan lahan sekitar setengah hektare untuk budidaya hortikultura dengan dukungan program pemberdayaan dari Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Dari tanah masam perlahan-lahan yang sebelumnya menghadapi persoalan kesuburan mulai menghasilkan berbagai komoditas pertanian. Bagi masyarakat Desa Lele, perubahan itu bukan sekadar soal tanaman yang tumbuh.
Lebih dari itu, ada harapan baru yang tumbuh bersama setiap musim panen. Pola tersebut menciptakan mata rantai ekonomi yang mempertemukan masyarakat sebagai produsen dengan kebutuhan pasar sebagai konsumen, dan berjalan sesuai hukum pasar.
“Hasilnya dari tanah masam ini sekarang menjadi lahan produktif untuk tanaman holtikultura, seperti tomat, sawi, terong dan berbagai komoditi lainnya dan mampu menjawab kebutuhan industri tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Soekarno. Dalam satu siklus sekitar tiga bulan, hasil pertanian dapat dipanen dan memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok.
Nilai pendapatan kelompok bahkan dapat mencapai sekitar Rp15 juta hingga Rp30 juta, tergantung jenis komoditas dan hasil produksi.

|
Selanjutnya,
Keberlanjutan Mulai Menemukan Bentuknya
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....