Kisah Haru Juliana Damu: Dari Barak Pengungsian jadi Bos Logistik
- 14 Jul 2026 11:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sebelum sukses menjabat Global Vice Chairperson WiLAT, Juliana Sofia Damu melewati masa kecil yang sangat getir di dalam barak pengungsian tanpa sanitasi layak.
- Kerasnya penderitaan masa lalu ia jadikan bahan bakar mental untuk mendobrak dominasi pria dan menaklukkan persaingan ketat di industri logistik nasional.
- Kini sebagai Ketua PERPINA DKI Jakarta, ia aktif memberdayakan sesama perempuan profesional dan mendedikasikan sebagian keuntungan bisnisnya untuk aksi sosial.
RRI.CO.ID, Jakarta - Sosok Juliana Sofia Damu kini dikenal luas sebagai srikandi tangguh yang menakhodai industri logistik dan transportasi di Asia Tenggara. Menyandang CMILT, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Global Vice Chairperson WiLAT (Women in Logistics and Transport) Asia Tenggara.
Selain itu, ia juga resmi terpilih menjadi Ketua DPD Perempuan Pemimpin Indonesia (PERPINA) DKI Jakarta sejak Mei 2026. Kiprahnya yang vokal dalam menyuarakan kesetaraan gender menjadikannya teladan nyata bagi pemberdayaan kaum perempuan di ranah profesional.
Namun di balik rentetan prestasi mentereng tersebut, tersimpan lembaran masa lalu Juliana yang sangat kontras dan menyentuh hati. Dinding barak pengungsian yang dingin dan pengap sempat menjadi saksi bisu masa kecilnya yang dipenuhi air mata serta keterbatasan.
Di tengah kepungan dinding darurat pascabencana tersebut, ia harus menelan getirnya kemiskinan ekstrem yang merenggut hak-hak dasar hidupnya. Bayang-bayang penderitaan begitu nyata ketika ia harus berdiri di barisan panjang setiap hari hanya demi mendapatkan air bersih.
Fasilitas sanitasi yang tidak layak dan kumuh seolah menjadi menu harian yang terus menguji batas ketabahan mental keluarganya saat itu. Rasa lapar dan dinginnya angin malam juga kerap datang beriringan menyiksa tubuh kecilnya di dalam ruang barak yang sangat sempit.
Namun, ketegaran sang ibu di tengah badai kesulitan justru menjadi pelita yang membakar habis sarang keputusasaan di dalam dadanya. Pemandangan orang tua yang terus berjuang tanpa mengeluh perlahan menumbuhkan tekad luar biasa dalam diri Juliana kecil.
"Saya pernah hidup di barak tanpa WC dan harus mengantre lama untuk sekadar mandi. enderitaan masa lalu itu menjadi bahan bakar utama bagi saya untuk bekerja keras," kenang Juliana dengan tatapan mata yang menerawang jauh, seperti dilansir dari Youtube RRI Pro3, Selasa, 14 Juli 2026.
Bagi Juliana, kemiskinan bukanlah sebuah takdir mati yang harus diratapi tanpa ada usaha nyata untuk melakukan perlawanan. Ia kemudian memahat sebuah janji suci di dalam hatinya untuk mengangkat kembali harkat dan martabat keluarganya suatu hari nanti.
Memasuki usia remaja, ia mulai menjajaki berbagai pekerjaan apa saja demi membantu menyambung napas ekonomi dapur orang tuanya. Tidak jarang cemoohan dan pandangan sebelah mata dari orang sekitar menjadi hiasan dinding perjalanan yang harus ia lalui dengan lapang dada.
Perjuangan yang menguras air mata tersebut rupanya sukses menempa kepribadiannya menjadi sosok yang sangat menghargai proses kehidupan. "Kita tidak boleh menyerah pada keadaan sesulit apa pun karena mental kita sedang diuji di sana," ujarnya mengenang masa sulit itu.
Lewat cucuran keringat dan jam tidur yang terpangkas habis, ia mengonversi setiap rasa sakit masa lalu menjadi energi untuk melangkah maju. Karakter mental baja yang ditempa langsung oleh kerasnya kehidupan barak perlahan menuntunnya melewati lorong-lorong gelap kegagalan bisnis.
Dunia logistik yang keras dan didominasi pria kemudian ia masuki dengan modal keberanian besar serta integritas tinggi. Ia belajar secara otodidak mengenai manajemen rantai pasok global hingga akhirnya mampu menduduki posisi kepemimpinan strategis seperti sekarang.
Waktu akhirnya membuktikan untaian doa dan konsistensi tinggi mampu meruntuhkan tembok kemustahilan yang semula berdiri kokoh. Sosok bocah perempuan yang dulu akrab dengan kemelaratan kini telah bertransformasi menjadi salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di tanah air.
"Keterbatasan fisik dan ekonomi bukanlah alasan utama untuk menghentikan impian besar kita," ucap Juliana dengan senyum sarat ketulusan. Keyakinan kuat inilah yang selalu ia tanamkan pada setiap perempuan yang ingin merintis karier di dunia profesional.
Kendati kini telah menggenggam kesuksesan besar, ia memilih tetap membumi dan merajut kembali kepeduliannya pada masyarakat akar rumput. Sebagian keuntungan bisnis dan perhatiannya didedikasikan untuk membangun fasilitas sanitasi layak serta membantu anak-anak di daerah marjinal.
"Kesuksesan sejati adalah saat kita bisa menjadi saluran berkat dan membawa dampak nyata bagi kesejahteraan orang banyak," katanya. Kisah perjalanan hidup Juliana Sofia Damu ini membuktikan bahwa dari lumpur keterbatasan, bisa lahir sebuah mahakarya kepemimpinan yang menginspirasi negeri.
Bagi Anda yang ingin menyaksikan perjuangan inspiratif dan kisah lengkap perjalanan hidup Juliana Sofia Damu, tonton video lengkapnya di saluran YouTube RRI Pro3.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....