Harmoni Berkelanjutan dari Tanah Masam Menjadi Kehidupan di Kawasan IMIP
- 14 Agt 2026 00:43 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Warga Desa Lele, Morowali, Sulawesi Tengah, aktif mengelola lahan pertanian hortikultura dan kolam ikan sejak pagi hari untuk memastikan hasil panen siap dipasarkan.
- Lahan pertanian di Desa Lele bukan sekadar tempat berkebun biasa, melainkan mencerminkan kisah perubahan dan transformasi dalam sistem pertanian lokal.
- Aktivitas pertanian dan perikanan di desa ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam mengembangkan ekonomi lokal melalui usaha tani yang terkelola dengan baik.
Tanah Masam Menjadi Kawasan Produktif
RRI.CO.ID, Morowali - Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika aktivitas mulai terlihat di lahan pertanian Desa Lele, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Di antara hamparan hijau tanaman hortikultura, warga sibuk merawat tanaman, memeriksa kolam ikan, dan memastikan hasil panen siap dipasarkan.
Pemandangan itu mungkin terlihat biasa, bagi sebagian orang. Namun, bagi warga Desa Lele, lahan tersebut menyimpan cerita tentang perubahan.
Dulu, tanah di kawasan ini dikenal kering, tandus, dan memiliki tingkat keasaman tinggi. Nilai pH tanah bahkan berada di kisaran empat, kondisi yang membuat lahan tidak mudah ditanami dan produktivitas pertanian sangat terbatas.
Tidaklah jarang jika sistem pertanian berpindah-pindah menjadi solusi yang sering dilakukan, semata-mata mencari lahan yang dianggap layak untuk kegiatan pertranian. Kini, sebagian lahan itu berubah menjadi sumber penghidupan baru.
Hamparan nan hijau seakan mau mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat, tanah yang tandus menjadi lahan sumber pandapatan masyarakat. Memberikan inspirasi bagi masyarakat dimana ada kemauan pasti disitu ada jalan.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih harmonis antara pertumbuhan industri, pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan di sekitar kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Apakah ini menjadi sebuah jawaban dari harmoni berkelanjutan di kawasan industri IMIP yang tumbuh, berdaya bagi masyarakat dan lingkungan yang terjaga?
Keberlanjutan Mulai Menemukan Bentuknya
Kelompok masyarakat Berkah Mombula Desa Lele, menjadi salah satu contoh inspirasi dari bagaimana lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian yang memberikan nilai ekonomi. Pembina Kelompok Tani Berkah Mombula Desa Lele Soekarno, mengatakan awal mula kelompok ini bekerja sebagai petani.
Namun sejak adanya Indutri IMIP menjadi peluang untuk mendapatkan hasil dari bertani. “Setelah berproses, IMIP turuntangan dari tahun 2021 melihat dan melakukan pengawalan, pendampingan sampai evaluasi, sehingga terbentuknya kelompok Tani Mombula sebagai salah satu kelompok Tani Pertama di Kecamatan Bahodopi yang terus berkembang jumlah kelompoknya” kata Soekarno, Selasa 22 Juli 2025.
Meskipun sudah dikategorikan lahan di Bohodopi tidak bisa dijadikan lahan pertanian karena pH tanah dengan perubahan cuaca yang tidak menentu, namun bagi Sokerano, dengan penerapan metode yang bernar, aplikasi yang benar,akan memberikan hasil yang masimal pula. Sejak 2021, kelompok ini mengembangkan lahan sekitar setengah hektare untuk budidaya hortikultura dengan dukungan program pemberdayaan dari Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Dari tanah masam perlahan-lahan yang sebelumnya menghadapi persoalan kesuburan mulai menghasilkan berbagai komoditas pertanian. Bagi masyarakat Desa Lele, perubahan itu bukan sekadar soal tanaman yang tumbuh.
Lebih dari itu, ada harapan baru yang tumbuh bersama setiap musim panen. Pola tersebut menciptakan mata rantai ekonomi yang mempertemukan masyarakat sebagai produsen dengan kebutuhan pasar sebagai konsumen, dan berjalan sesuai hukum pasar.
“Hasilnya dari tanah masam ini sekarang menjadi lahan produktif untuk tanaman holtikultura, seperti tomat, sawi, terong dan berbagai komoditi lainnya dan mampu menjawab kebutuhan industri tetapi juga peningkatan ekonomi masyarakat,” ujar Soekarno. Dalam satu siklus sekitar tiga bulan, hasil pertanian dapat dipanen dan memberikan tambahan pendapatan bagi anggota kelompok.
Nilai pendapatan kelompok bahkan dapat mencapai sekitar Rp15 juta hingga Rp30 juta, tergantung jenis komoditas dan hasil produksi.

Pemberdayaan IMIP Tumbuhkan Ekonomi Masyarakat
Keberhasilan Berkah Mombula ikut mendorong terbentuknya kelompok-kelompok tani lainnya. Sedikitnya enam kelompok tambahan kemudian berkembang dengan semangat yang sama, mengubah potensi lahan menjadi sumber ekonomi masyarakat menjadi sebuah efek berantai pemberdayaan masyarakat.
Menurut Soekarno, keberhasil kelompoknya dapat menarik terbentuknya kelompok kelompok lainnya. “Setelah itu kita bisa mengajak teman teman untuk menjadikan kelompok lainnya,” kata Soekarno.
“Sering konsep pengolahan lahan, peralatan, pemberian nutri secara masimal sehingga dapat melihat hasilnya yang masimal. Itu yang menjadi dasar teman teman semakin percaya dan mau masuk bergabung di bidang pertanian,” ucapnya menambahkan.
Menariknya, keterlibatan generasi muda juga mulai terlihat. Sekitar 40 persen anggota yang terlibat dalam kegiatan tersebut merupakan anak muda.
Bagi mereka, pertanian tidak lagi semata-mata pekerjaan tradisional. Pertanian mulai dilihat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi yang dapat dikembangkan dengan pendekatan teknologi dan inovasi.
Konsep budidaya hidroponik turut dikembangkan. Sistem ini menjadi alternatif untuk mengatasi keterbatasan kondisi tanah sekaligus memperkenalkan cara bercocok tanam yang lebih efisien.
Di sisi lain, masyarakat juga mengembangkan enam kolam ikan nila sebagai bagian dari diversifikasi usaha. Pertanian dan perikanan kemudian berjalan berdampingan.
Sisa hasil produksi tidak semata-mata dianggap sebagai limbah, tetapi mulai diarahkan untuk dimanfaatkan kembali, termasuk melalui pengembangan pakan ikan. Di sinilah gagasan keberlanjutan mulai menemukan bentuknya atau simbiosismutualisme, yang saling ketergantungan satu dengan lainnya.
Harmoni Berkelanjutan, Menjaga Masa Depan
Pertumbuhan industri di Morowali membawa perubahan besar terhadap kawasan dan masyarakat di sekitarnya. Namun, pertumbuhan ekonomi akan memiliki makna lebih luas ketika masyarakat lokal juga memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Hasil pertanian kini diserap untuk kebutuhan industri dan pasar lokal, menjadi cita cita petani dari tanah masam menjadi harapan baru tumbuhnya ekonomi masyarakat. Program Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan IMIP sangat membantu masyarakat, bahkan dengan tegas Soekarno mengatakan, bantuan peratan petrtanian selama ini diberikan dari IMIP.
Ini menjadi jembatan penting agar aktivitas industri tidak berjalan sendiri, melainkan menciptakan manfaat yang dapat dirasakan oleh lingkungan sosial di sekitarnya. “Alhamdullilah kalau untuk peralatan itu, itu IMIP yang suplay karena IMIP melihat dari tahun 2021 potensi pertanian, IMIP turun tangan memberikan alat pengolahan tanah sekaligus untuk peningkatan pH tanah yaitu kapur dan nutrisi tanaman untuk pertumbuhan, yang sampai saat ini ada evaluasi dan bimbingan yang terus dilakukan IMIP,” ucap Soekarno.
Program pengembangan masyarakat seperti yang dilakukan bersama kelompok Berkah Mombula menunjukkan bahwa hubungan antara industri dan masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan yang produktif. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, tetapi didorong menjadi pelaku ekonomi.
Lahan dikelola, tanaman dibudidayakan, ikan Nila dikembangkan. Hasil produksi dipasarkan, pengetahuan bertambah.
Dan yang tidak kalah penting adalah kepercayaan diri masyarakat petani ikut tumbuh, seiring dengan pertumbuhan eknomi dari usaha keras yang tidak menyangkal hasilnya. Ketua Kelompok Tani Berkah Mombula Desa Lele Rahmad mengatakan, hasil dapat dijual dengan pendapatan perbulan dari Rp15 juta hingga Rp30 juta per petani.
Hasil produksi kemudian dipasarkan melalui dua jalur. Sebagian memenuhi kebutuhan internal kawasan industri IMIP, sementara sebagian lainnya dipasarkan ke masyarakat dan pasar sekitar.
“Jadi begini pak, IMIP itu punya standard untuk kualitas barang, jadi yang tidak masuk standard IMIP kita jual di pasar sekitar kawasan PT IMIP. Saat ini dengan kehadiran PT IMIP hasil panen petani tidak lagi terbuang”. kata Rahmad.

Di tengah pertumbuhan industri yang pesat, isu lingkungan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan. Karena itu, keberlanjutan tidak cukup hanya diukur dari besarnya produksi atau nilai ekonomi yang dihasilkan.
Keberlanjutan juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat menjaga sumber daya yang menjadi tempat mereka hidup. Staf CSR PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Sulawesi Tengah, Tarya, Selasa 22 Juli 2025 mengatakan, Kelompok Tani Berkah Mombula menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat petani.
Mereka pun sudah menjadi mitra PT IMIP untuk kebutuhan pangan perusahaan. “Sejak terbentuknya Kelompok Tani Berkah Mombula Desa Lele, isu petani terintegrasi menjadi konsep besar untuk membangun masa depan,” kata Tarya.
“Pelatihan bagaimana belajar bertani dengan baik dan pembuatan ensim untuk menumbuhkan kegiatan pertanian,” ucap Tarya menjelaskan. Sejak tahun 2022 melakukan pelatihan dan di tahun 2023, 2024 PT IMIP memberikan sarana dan prasarana berupa kultifaktor atau mesin pengolahan tanah, pupuk dan sebagainya.
Di tahun 2025 membangun kemitraan membangun pasar yang sudah dilakukan 2023 diperkuat di tahun 2025. Harapan kedepan perusahaan memiliki roadmap untuk kelompok kelompok tani.
Semakin banyak kelompok tani, ada kerjasama untuk saling sering terkait dengan kendala yang dialami kelompok tani lainnya. “Dukungan pemerintah sangat dibutuhan, sehingga di tahun 2027 ada kekuatan hukum sekaligus bagaimana pertanian di Mombula bisa masuk pada metode penggunaan teknologi yang dapat diaplikasi dalam bidang pertanian, sehingga produktifitas dan kualitas biasa meningkat,” kata Tarya.
Pengembangan pertanian, hidroponik, perikanan, dan pemanfaatan kembali sumber daya merupakan bagian dari upaya membangun pola ekonomi yang lebih berkelanjutan. Apa yang terjadi di Desa Lele memperlihatkan bahwa keterbatasan bukan selalu akhir dari sebuah cerita.
Tanah dengan pH rendah dapat diolah. Lahan tandus dapat menjadi produktif.
Masyarakat dapat memperoleh keterampilan baru. Anak muda dapat menemukan ruang untuk terlibat.
Dan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Di balik gemuruh aktivitas industri Morowali, ada cerita lain yang tumbuh perlahan di tengah masyarakat.
Desa Lele menjadi salah satu gambaran kecil dari perjalanan besar tersebut. Industri tetap tumbuh. Masyarakat semakin berdaya. Lingkungan terus dijaga.
Bukan hanya tentang apa yang dibangun hari ini, tetapi tentang apa yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Akhirnya dari Tanah Masam di Kawasan Industri IMIP Morowali, harmoni itu sedang ditanam menjadi kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....