Ketika Bank Jakarta Membuka Jalan Digital bagi Warung Tiga Generasi
- 31 Jul 2026 10:54 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Yoyok adalah penjual kopi di kantin Radio Republik Indonesia Jakarta yang telah melayani ribuan pegawai, petugas, dan tamu dengan senyum dan kehangatan selama bertahun-tahun.
- Warung kopi sederhana Yoyok bukan hanya tempat transaksi jual-beli, melainkan ruang penyimpan kenangan dan cerita yang menghubungkan berbagai generasi pengunjung.
- Melalui setiap cangkir kopi yang disajikan, Yoyok telah menciptakan narasi keberlangsungan keluarganya di tengah perubahan zaman yang cepat dan kompleks.
KEPUL asap kopi menari di udara, menyatu dengan harum gorengan hangat dan riuh percakapan yang tak pernah benar-benar usai. Setiap pagi, kantin Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta seolah menjelma menjadi panggung kecil tempat waktu berhenti sejenak, sementara Yoyok berdiri di balik etalase sederhana, meracik secangkir kopi yang bukan sekadar pelepas kantuk, melainkan penghangat cerita bagi setiap orang yang singgah.
Senyumnya mengalir seramah uap kopi yang mengepul, menyambut pegawai, petugas, hingga tamu yang datang silih berganti. Di tangan Yoyok, warung sederhana itu bukan hanya tempat menjual kopi dan gorengan, melainkan ruang yang merawat kenangan lintas generasi, saksi bisu perjalanan sebuah keluarga yang tetap bertahan di tengah derasnya perubahan zaman.
Di sanalah tersimpan perjalanan panjang usaha keluarganya yang telah bertahan lebih dari tiga generasi. Awalnya sang kakek yang berasal dari sebuah desa di Kuningan, Jawa Barat, mencoba peruntungan berdagang di RRI Jakarta sekitar tahun 1970-an.
Berbekal gerobak dorong yang dibuat menjadi sebuah warung, sang kakek menjual gorengan, kopi, dan aneka minuman di RRI. Selama 20 tahun lebih melayani pembeli, karena faktor usia akhirnya sang kakek menyerahkan tampuk warung kepada ibu Yoyok.
Pada saat itu mereka mendapat tempat berjualan di bawah tangga gedung RRI. Lokasinya berada di bawah tangga, tempat para pegawai berlalu-lalang menuju ruang kerja, membuat warung tersebut tak pernah sepi.
"Awalnya mah kakek saya yang jualan di RRI, tahun 1970-an, itu bareng sama tukang ketoprak, baru terus digantiin ibu saya. Jualan di gedung SLN yang lama, di bawah tangga," kata Yoyok saat ditemui sambil meracik pesanan kopi, Senin, 13 Juli 2026.
Setelah hampir empat dekade keluarga berdagang, tongkat estafet usaha tersebut akhirnya diteruskan kepada dirinya. Pada 2013, Yoyok melanjutkan alih usaha warung tersebut ketika sang ibu memutuskan kembali ke kampung halaman karena faktor usia.
Pada saat itu, ia tidak lagi berjualan di bawah tangga namun sebuah tempat di kantin. Mendapat tempat strategis berada di pojok dengan jajaran kursi yang menghadap warungnya, membuat Yoyok semakin sibuk melayani pelanggan.
Mereka bukan hanya dari pekerja RRI saja, tapi juga pegawai di sekitarnya yang mencari sarapan serta makan siang. Namun, perjalanan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus.

Ketika Pandemi Merubah Pola Konsumsi dan Transaksi Masyarakat
Pada pandemi Covid-19 pada tahun 2020, warung Yoyok menjadi salah satu yang terdampak. Kebijakan bekerja dari rumah yang diputuskan pemerintah untuk memutus rantai penyebaran pandemi membuat kantinnya mendadak sepi.
Warung yang biasanya dipenuhi pelanggan terpaksa tutup sementara karena hampir tidak ada aktivitas perkantoran. Sampai pada awal 2021 ia Kembali membuka warunya, dikarenakan aktivitas perkantoran mulai kembali normal secara bertahap dengan protokol kesehatan ketat.
Pelanggan perlahan mulai berdatangan hanya saja pola pembayaran mulai berubah. Mereka tidak lagi menggunakan uang tunai tapi ingin menggunakan transaksi digital.
Para pelanggan atau pembeli secara tidak langsung mendorong Yoyok untuk membuat pembayaran non-tunai."Bisa Pakai QRIS?", kata-kata ini yang selalu ditanyakan para pelanggan setia Yoyok.
Perubahan Terjadi Ketika Bantuan BANK Jakarta Datang
Dorongan tersebut membuat Yoyok juga harus beradaptasi soal cara pembayaran yang diinginkan pembeli. Hal ini dilakukan agar dirinya tidak kehilangan pelanggan.
Sampai akhirnya di tahun 2023, Bank Jakarta datang menawarkan layanan digitalisasi perbankan bagi pelaku UMKM melalui fasilitas pembayaran QRIS Merchant di warung miliknya. Seperti oase di tengah gurun, penawaran ini menjadi jawaban keresahan Yoyok pada kebutuhan pelanggan akan transaksi keuangan digital.
"Waktu itu dari Bank Jakarta ada yang dateng nawarin QRIS. Ya udah saya mau karena gampang juga buatnya," ujarnya.

Yoyok juga menilai biaya menggunakan BANK Jakarta sangat murah hanya sebesar Rp5 ribu per tahun. "Enggak ada biaya bulanan, cuma bayar Rp5 ribu biaya tahunan, sekarang udah mau 3 tahun saya pake QRIS Bank Jakarta," ucap Yoyok sambil membersihkan meja dari sampah cemilan.
Bagi Yoyok, digitalisasi pembayaran bukan hanya menghadirkan kemudahan bagi pelanggan, namun juga membantu pelaku usaha kecil seperti dirinya mengikuti tuntutan perkembangan zaman. Sekarang disamping kulkas pendingin minuman terpajang sebuah kode QR yang menjadi simbol digitalisasi usahanya.
Yoyok mengatakan bahwa pendapatan melalui QRIS Bank Jakarta sama besarnya dengan penerimaan uang tunai. Ia menilai transaksipun mudah, cepat, aman karena semua transaksi masuk langsung ke rekening merchant.
"Pakai QRIS Bank Jakarta soalnya gampang, cepet terus aman, kan semua transaksi langsung masuk ke rekening merchant, detail transaksi juga bisa diliat. Hasil penjualan saya mah berimbang lah tunai sama QRIS, misal hari ini transaksi terus udah bisa ditarik," ucap Yoyok sambil meluruskan kakinya di kursi dalam warungnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....