Dari Asap Tungku Kopi Gombengsari, Siswa PENABUR Belajar Arti Pantang Menyerah
- 22 Sep 2026 06:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sebanyak 205 siswa dari 16 SLTAK PENABUR Jakarta mengikuti rangkaian "Spirit of Challenge" 2026 di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 18–23 September 2026.
- Para siswa belajar mengolah biji kopi secara tradisional bersama Samida (70) dan 31 warga Desa Wisata Kopi Gombengsari.
- Bagi peserta, pengalaman di Gombengsari menjadi pelajaran untuk berani mencoba hal baru dan pantang menyerah sesuai semangat Be Tough.
RRI.CO.ID, Banyuwangi - Asap tipis mulai mengepul dari tungku kayu di Desa Wisata Kopi Gombengsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah udara pagi, aroma biji kopi yang disangrai perlahan menguar.
Sejak pukul 06.00 WIB, Samida (70) bersama 31 warga lainnya telah bersiap menyambut kedatangan 205 siswa dari 16 SLTAK PENABUR Jakarta. Pagi itu, mereka bukan sekadar menjadi tuan rumah. Mereka akan menjadi guru bagi para siswa, berbagi pengetahuan tentang bagaimana biji kopi diolah secara tradisional.
Bagi Samida, perjumpaan tersebut bukanlah pengalaman pertama. Tahun 2026 menjadi kali keempat dirinya terlibat dalam kegiatan "Spirit of Challenge" BPK PENABUR Jakarta yang berlangsung pada 18-23 September 2026 di Banyuwangi.
"Sejak pertama kali tahun 2024, saya sudah ikut acara ini. Saya senang sekali karena anak-anaknya baik, sopan dan mau mengikuti yang saya contohkan," ujar Samida.
Di sisi lain, bagi para siswa, pagi itu menjadi kesempatan untuk melihat kopi dari sisi yang berbeda. Bukan sekadar minuman yang tersaji di dalam kemasan, tetapi hasil dari proses panjang yang membutuhkan ketekunan.
Nicolaus Alexander Christian, siswa kelas XI SMAK PENABUR Gading Serpong, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari kegiatan tersebut.
"Saya jadi dapat ilmu baru tentang pengolahan biji kopi. Sebelumnya hanya mengetahui cara membuat kopi bubuk instan, sekarang jadi paham ternyata untuk menghasilkan kopi bubuk perlu proses yang panjang, dari pemilihan bibit yang baik, perawatan pohon kopi, proses panen, pengeringan, menyangrai, hingga ditumbuk dengan alu," katanya.
Pengalaman itu sekaligus memperlihatkan kepada Nicolaus bahwa proses sederhana yang selama ini jarang terlihat ternyata membutuhkan tenaga dan kesabaran.
“Apalagi saat menyangrai itu sulit sekali, mata jadi pedih karena asap dari tungku kayu,” ucapnya menambahkan.
Menemukan Ketangguhan dari Hal Sederhana
Kegiatan di Gombengsari merupakan bagian dari rangkaian "Spirit of Challenge" 2026 yang digelar BPK PENABUR Jakarta. Program ini dirancang untuk menumbuhkan kepedulian, kemandirian, tanggung jawab, ketekunan, kemampuan menghargai perbedaan, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas para peserta.
Banyuwangi dipilih tidak hanya sebagai lokasi kegiatan, tetapi juga sebagai ruang belajar. Para siswa diajak mengenal alam sekaligus budaya masyarakat setempat.
Selain belajar mengolah kopi secara tradisional di Desa Wisata Kopi Gombengsari, peserta juga diajak menikmati keindahan Taman Nasional Baluran. Mereka belajar membuat makanan tradisional seperti klemben dan kue kucur, membuat anyaman bambu, menari gandrung, hingga memainkan alat musik gamelan.
Bagi Henricus Arif, Pengurus BPK PENABUR Jakarta, pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir. Ia berharap para peserta mampu membawa nilai yang mereka dapatkan untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Dampak bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti kesediaan mendengar dan belajar, memberi dengan tulus, memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang berharga, serta sebisa mungkin meringankan beban orang lain," katanya berpesan.
Ketika Pertemuan Membawa Manfaat
Pertemuan antara siswa dari Jakarta dan masyarakat Gombengsari juga menghadirkan manfaat bagi kedua belah pihak.
Sejak kegiatan "Spirit of Challenge" pertama kali dilaksanakan pada 2023, masyarakat setempat mulai merasakan dampak dari kunjungan tersebut. Salah satunya berupa fasilitas yang dibangun untuk mendukung aktivitas wisata di desa.
"Salah satunya di lapangan ini dibuatkan toilet oleh BPK PENABUR Jakarta. Ada empat toilet, dan itu bisa digunakan oleh tamu-tamu yang datang, sehingga, desa kami jadi lebih sering menerima kunjungan," kata Samida menuturkan.
Bagi masyarakat Gombengsari, kehadiran para peserta juga membuka ruang perjumpaan antara masyarakat desa dan generasi muda dari perkotaan.
Lurah Gombengsari, Abdul Majid Hamzah, berharap kegiatan tersebut dapat terus memperkuat semangat kolaborasi antara masyarakat perkotaan dan masyarakat Gombengsari.
Sementara bagi Nicolaus, pengalaman di Banyuwangi meninggalkan pesan yang lebih personal. Ia tidak hanya membawa pulang pengetahuan tentang kopi dan budaya lokal, tetapi juga pelajaran tentang keberanian menghadapi sesuatu yang baru.
Ia berharap Samida dan rekan-rekannya yang telah berbagi ilmu dengan para peserta "Spirit of Challenge" 2026 selalu diberikan kesehatan dan semangat.
"Melalui kegiatan ini, saya belajar untuk menjadi Be Tough, berani mencoba hal baru dan pantang menyerah," ujarnya.
Di Gombengsari, secangkir kopi rupanya bukan hanya tentang rasa. Dari tangan warga yang mengolahnya secara tradisional, para siswa belajar bahwa sesuatu yang tampak sederhana dapat lahir dari proses panjang, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....