Bantaragung Majalengka Masuk Tiga Besar Sertifikasi Desa Wisata Nasional

  • 17 Jul 2026 11:45 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Majalengka –Di kaki megah Gunung Ciremai, geliat Desa Wisata Bantaragung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, kian terasa nyata. Destinasi ini kini bertransformasi menjadi denyut baru bagi pariwisata berbasis masyarakat.

Tahun 2026 menjadi panggung penting ketika desa ini aktif dalam berbagai ajang bergengsi tingkat Provinsi Jawa Barat. Melalui pencapaian tersebut, Desa Wisata Bantaragung kini mulai mencuri perhatian di level nasional.

Capaian paling menonjol diraih oleh Wawan Hermawanto, sosok Ketua Pengelola Desa Wisata Bantaragung. Ia sukses menembus daftar 50 Besar Local Hero in Tourism yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Prestasi ini semakin menguatkan posisi Kabupaten Majalengka dalam melahirkan inovator pariwisata yang diakui secara nasional. Pasalnya, daerah ini sukses menempatkan dua wakil terbaiknya, termasuk Deden Purbaya dari Desa Teja dengan inovasi wisata Anggur Brazil-nya.

Tak berhenti pada pencapaian individu, langkah strategis kini tengah disiapkan. Desa Wisata Bantaragung bersiap mengikuti Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan, sebuah program nasional yang menekankan keseimbangan pengelolaan destinasi dari sisi lingkungan, sosial, budaya, hingga ekonomi.

"Sertifikasi ini menjadi indikator penting bagi desa wisata dalam menerapkan tata kelola yang profesional. Di saat yang sama, langkah ini juga berfungsi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya yang ada.," ujar Ketua Pengelola Desa Wisata Bantaragung, Wawan Hermawanto, Jumat, 17 Juli 2026.

Menariknya, pada tahun 2026, Desa Wisata Bantaragung terpilih menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam proses sertifikasi tersebut. Langkah prestisius ini dijalani bersama dua desa wisata tanah air lainnya yang juga turut terpilih.

Upaya ini diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta Dinas Lingkungan Hidup. Selain itu, sinergi ini juga merangkul Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, Badan Pusat Statistik, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Namun di balik optimisme tersebut, menurut Wawan, tersimpan tantangan mendasar yang belum terselesaikan. Aksesibilitas menuju kawasan wisata masih menjadi persoalan krusial.

"Kondisi jalan yang rusak di sejumlah titik dinilai mengganggu kenyamanan dan keselamatan para wisatawan. Jika dibiarkan, hambatan infrastruktur ini berpotensi memengaruhi penilaian dalam proses sertifikasi desa wisata tersebut.," katanya.

Situasi ini menjadi ironi di tengah potensi besar yang dimiliki Bantaragung. Ketika kualitas pengelolaan terus ditingkatkan, aspek infrastruktur justru menjadi titik lemah yang membutuhkan perhatian serius.

Karena itu, dukungan Pemerintah Kabupaten Majalengka dalam perbaikan akses jalan menjadi harapan utama. Intervensi tersebut dinilai bukan sekadar solusi jangka pendek, melainkan investasi strategis bagi penguatan sektor pariwisata daerah.

Jika hambatan infrastruktur mampu diatasi, Desa Wisata Bantaragung berpeluang besar melangkah lebih jauh. Tidak hanya sekadar menjadi peserta, desa ini potensial menjadi model pariwisata berkelanjutan yang menyejahterakan masyarakat sekaligus mengharumkan nama Majalengka di kancah nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....