Damai Berawal dari Sikap

  • 15 Jul 2026 19:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat harus dimulai dari perubahan sikap diri sendiri, bukan dengan menunggu orang lain berubah. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Buddha Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyumas, Eka Prasetyawati, S.Pd., dalam dialog interaktif bertajuk "Damai Berawal dari Sikap" yang disiarkan RRI Pro 2 FM Purwokerto, Selasa (14/7/2026).

Dalam dialog bersama penyiar Siska, Eka menjelaskan bahwa ajaran Buddha menempatkan pikiran sebagai pelopor dari setiap tindakan. Oleh karena itu, seseorang perlu membangun pola pikir yang positif agar melahirkan perilaku yang baik dan mampu menciptakan lingkungan yang damai.

"Ketika kita ingin mengubah dunia, tentu yang pertama kali harus kita ubah adalah sikap kita sendiri. Jika pikiran dipenuhi hal-hal positif, maka perilaku kita juga akan baik sehingga mampu menyebarkan perdamaian kepada orang lain," ujarnya.

Menurut Eka, membangun rasa saling percaya di tengah keberagaman agama harus diawali dengan perjumpaan yang baik dan komunikasi yang sehat. Sikap terbuka serta saling menghormati akan menjadi fondasi terbentuknya kerja sama dan kerukunan antarumat beragama.

Ia menegaskan bahwa toleransi bukan berarti mengurangi atau mengorbankan keyakinan yang dianut. Moderasi beragama justru mengajarkan setiap orang untuk memahami agamanya dengan baik sekaligus menghormati pemeluk agama lain.

"Tetap jalankan ajaran agama masing-masing dengan benar, kemudian hormati keyakinan orang lain. Itulah makna toleransi yang sesungguhnya," jelasnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Eka mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjaga ucapan dan menghindari perkataan yang dapat menyinggung ajaran maupun praktik keagamaan orang lain. Menurutnya, sikap saling menghormati akan menciptakan hubungan pertemanan yang harmonis tanpa rasa canggung maupun jarak.

Ia juga menekankan pentingnya empati sebagai salah satu nilai utama dalam moderasi beragama. Dalam ajaran Buddha, nilai tersebut tercermin dalam konsep Brahmawihara, yaitu cinta kasih (metta), kasih sayang (karuna), simpati (mudita), dan keseimbangan batin (upekkha). Melalui nilai-nilai tersebut, seseorang akan lebih mampu menghargai perbedaan dan menghindari tindakan yang menyakiti orang lain.

Selain itu, Eka mengingatkan generasi muda untuk bijak dalam menggunakan media sosial. Ia menilai penyebaran informasi yang belum terverifikasi, fitnah, maupun ujaran yang menyinggung agama dapat memicu konflik dan merusak kerukunan.

Mengacu pada ajaran Buddha tentang ehipassiko atau "datang dan buktikan", ia mengajak masyarakat untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai, membagikan, maupun memberikan komentar.

"Jangan langsung percaya pada informasi yang beredar. Cari tahu dulu kebenarannya. Setelah itu, jika ingin berkomentar, gunakan bahasa yang santun agar tidak menimbulkan konflik," katanya.

Lebih lanjut, Eka menyampaikan bahwa penerapan moderasi beragama di lingkungan sekolah maupun kampus dapat menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, harmonis, serta mencegah terjadinya perundungan. Perbedaan pendapat juga sebaiknya diselesaikan melalui dialog yang dilandasi kebijaksanaan dan keseimbangan batin.

Di akhir dialog, Eka mengajak generasi muda menjadi pelopor kerukunan dengan membangun karakter yang berlandaskan nilai-nilai moral, cinta kasih, dan sikap saling menghormati.

"Marilah kita menjadi generasi muda yang berkarakter, cerdas, dipenuhi cinta kasih, serta mampu mewujudkan dunia yang damai. Pelajari agama masing-masing dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan lupa untuk selalu menghormati sesama," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....