Sekolah Kader Adat Siapkan Generasi Muda Penjaga Raja Ampat

  • 20 Jul 2026 14:21 WIB
  •  Sorong
Poin Utama
  • Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 diselenggarakan oleh Institut USBA bersama Terra Papua, Greenpeace, dan Konservasi Indonesia pada 20–22 Juli 2026 di Kota Sorong dengan melibatkan 40 pemuda dan perempuan adat.
  • Program ini dirancang untuk membangun sistem kaderisasi berkelanjutan guna memperkuat kepemimpinan masyarakat adat dalam melindungi wilayah adat dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
  • Pelestarian Raja Ampat memerlukan lebih dari sekadar perlindungan kawasan, tetapi juga pemberdayaan generasi penerus masyarakat adat yang mampu memimpin dan mengambil keputusan untuk komunitasnya.

RRI.CO.ID, Sorong – Menjaga kelestarian Raja Ampat tidak cukup hanya melalui perlindungan kawasan, tetapi juga dengan menyiapkan generasi penerus yang mampu memimpin masyarakat adat. Berangkat dari semangat itu, Institut USBA bersama Terra Papua, Greenpeace, dan Konservasi Indonesia menggelar Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 di Kota Sorong pada 20–22 Juli 2026.

Kegiatan ini diikuti oleh 40 pemuda dan perempuan adat dari berbagai wilayah adat di Kabupaten Raja Ampat. Program tersebut menjadi langkah awal membangun sistem kaderisasi yang berkelanjutan untuk memperkuat kepemimpinan masyarakat adat, melindungi wilayah adat, serta mendorong pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sekolah Kader Adat merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Forum Gelar Senat Raja Ampat Tahun 2026 yang menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan masyarakat adat sebagai bagian dari upaya menjaga hak-hak masyarakat adat dan masa depan Raja Ampat.

Kepala Institut USBA, Charlie Imbir, mengatakan masyarakat adat memiliki peran sentral dalam menjaga kelestarian alam Papua. Menurutnya, Institut USBA berupaya menjembatani ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal agar lahir solusi yang berasal dari masyarakat adat sendiri.

"Sekolah Kader merupakan langkah nyata menyiapkan generasi pemimpin adat yang mampu menjaga identitas budaya, melindungi wilayah adat, serta mengembangkan inovasi berbasis pengetahuan untuk kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan sumber daya alam Raja Ampat," ujar Charlie.

Charlie menilai tantangan yang dihadapi masyarakat adat semakin kompleks, mulai dari tekanan terhadap wilayah adat, perubahan sosial, hingga dampak perubahan iklim. Karena itu, regenerasi kepemimpinan harus dibangun melalui sistem pembelajaran yang berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan sesaat.

Selama tiga hari pelaksanaan, peserta mendapatkan materi mengenai kepemimpinan adat, organisasi masyarakat adat, hak-hak masyarakat adat, advokasi kebijakan, penyelesaian konflik sumber daya alam, pemetaan wilayah adat, konservasi berbasis masyarakat adat, komunikasi publik, hingga penyusunan rencana tindak lanjut di komunitas masing-masing.

Program ini mengusung empat nilai utama, yakni belajar, bersatu, bergerak, dan menjaga. Keempat nilai tersebut menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda adat yang berpengetahuan, berintegritas, dan siap memimpin perlindungan wilayah adat serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Selain itu, peserta juga akan dilibatkan dalam penyelenggaraan Jambore atau Temu Raya Masyarakat Adat Raja Ampat pada Agustus 2026 sebagai ruang praktik kepemimpinan sekaligus memperkuat konsolidasi masyarakat adat.

Sekolah Kader Adat angkatan pertama ini juga diproyeksikan menjadi cikal bakal terbentuknya forum pemuda dan perempuan adat Raja Ampat. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah kader untuk menjadi penggerak organisasi masyarakat adat, fasilitator pembelajaran, pendamping komunitas, hingga calon pemimpin di tingkat kampung, sub-suku, suku, maupun kabupaten.

Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 di Kota Sorong pada 20–22 Juli 2026.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Terra Papua, Meity Mongdong, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Sekolah Kader Masyarakat Adat Raja Ampat 2026 yang digagas Institut USBA.

Menurutnya, program tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas generasi muda adat sekaligus memastikan masyarakat adat tetap menjadi aktor utama dalam pengelolaan sumber daya alam di Raja Ampat.

Meity mengatakan masyarakat adat merupakan pemilik wilayah adat sekaligus pengguna utama sumber daya alam. Namun, dalam berbagai proses pengelolaan sumber daya alam, masyarakat adat masih kerap dipandang memiliki kapasitas yang lemah dan belum dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan.

"Sering kali masyarakat adat hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, bukan menjadi bagian dari keputusan yang benar-benar lahir dari suara masyarakat adat yang telah terkonsolidasi," katanya.

Melalui Sekolah Kader Adat, Terra Papua berharap lahir kader-kader muda yang semakin memahami identitas masyarakat adat, hak-hak mereka, serta mampu melanjutkan nilai-nilai dan kearifan lokal kepada generasi berikutnya.

"Anak-anak muda harus memahami siapa mereka sebagai masyarakat adat dan bagaimana menjaga kearifan yang diwariskan leluhur. Karena itu, Terra Papua sangat mendukung kegiatan ini," ujar Meity.

Menurutnya, tantangan globalisasi dan modernisasi membuat generasi muda adat semakin menjauh dari wilayah adatnya sehingga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal perlahan mulai terkikis.

"Sekolah Kader Adat menjadi sangat strategis untuk memastikan pengetahuan dan nilai-nilai adat tetap hidup di tengah generasi muda," tuturnya.

Terra Papua menegaskan akan terus mendukung berbagai inisiatif penguatan masyarakat adat sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan di Tanah Papua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....