Islam Ajarkan Menghormati Sesama tanpa Memandang Status Ekonomi
- 17 Jul 2026 14:04 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Menghormati sesama tanpa memandang kondisi ekonomi merupakan bagian dari akhlak mulia dalam Islam. Masyarakat juga diajak membangun empati dan menjaga perasaan orang lain dalam setiap pergaulan.
Hal tersebut disampaikan Ahmad Fauzan Arifin, Lc., M.H., dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Kalimantan Selatan dalam Program NGOBRAS RRI Pro 1 Banjarmasin, Kamis, 16 Juli 2026. Dialog mengangkat tema "Obrolan di Malam Hari (Deep Talk Islami)" melalui kisah sepasang sepatu tua milik seorang petani miskin sebagai pengantar pembahasan tentang empati, adab, dan akhlak dalam Islam.
Ahmad Fauzan menceritakan seorang syekh berjalan bersama muridnya di hamparan sawah. Keduanya menemukan sepasang sepatu milik seorang petani yang ditinggalkan saat pemiliknya sedang makan siang.
Sang murid mengusulkan agar sepatu tersebut disembunyikan untuk melihat kepanikan sang petani. Namun, sang syekh menolak usulan itu dan memilih memasukkan sejumlah uang ke dalam kedua sepatu tersebut.
Petani itu terkejut ketika menemukan uang di dalam sepatunya. Ia kemudian bersujud sambil bersyukur karena rezeki tersebut dapat membantu menghidupi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan.
"Jangan kita menghibur diri dengan mengorbankan perasaan orang-orang fakir," kata Fauzan. "Kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu membahagiakan orang lain."
Menurutnya, kisah tersebut mengajarkan bahwa orang miskin bukanlah bahan candaan atau olok-olok. Setiap manusia memiliki kemuliaan yang harus dihormati sebagai ciptaan Allah Swt.
Ia menjelaskan, mengejek kondisi ekonomi, fisik, maupun pekerjaan seseorang sama saja dengan merendahkan ciptaan Allah. Sikap yang seharusnya dikedepankan adalah bersyukur atas nikmat yang dimiliki serta menghargai sesama.
Ahmad Fauzan menambahkan, Islam membolehkan bercanda selama tidak menyakiti perasaan orang lain. Candaan yang melukai hati seseorang tidak lagi bernilai sebagai hiburan, melainkan termasuk perbuatan zalim.
"Bercanda dibolehkan selama semua merasa senang dan tidak tersakiti," ujarnya. "Jika melukai hati orang lain, itu bukan candaan, melainkan bentuk kezaliman."
Ia mengingatkan umat Islam agar senantiasa menjaga lisan dalam setiap pergaulan. Menurutnya, ucapan yang baik akan mempererat persaudaraan dan menghadirkan keberkahan dalam kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....