Fenomena "Father Wound", Peran Ayah dalam Islam Tak Sebatas Memberi Nafkah
- 05 Jul 2026 15:41 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kehadiran ayah tidak hanya dimaknai sebagai pencari nafkah, tetapi juga sosok yang hadir secara emosional, mendidik, dan membangun kedekatan dengan anak. Peran tersebut dinilai penting untuk mencegah fenomena father wound, yakni luka emosional akibat minimnya kehadiran atau peran ayah yang dapat memengaruhi tumbuh kembang serta kesehatan mental anak.
Hal itu disampaikan dalam siaran Ragam Budaya Ruhui Barakatan RRI Pro4 Banjarmasin bersama UIN Antasari Banjarmasin, Sabtu, 4 Juli 2026. Mengangkat tema "Kewajiban Ayah terhadap Anak dalam Hukum Islam: Menyoal Fenomena Father Wound", program ini menghadirkan Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin, Dwi Arini Zubaidah, M.H., serta mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab, Mariatul Kiftah dan Salim, sebagai narasumber.
Arini menjelaskan, kewajiban ayah terhadap anak dalam Islam dimulai sejak anak lahir dan tidak terbatas pada pemenuhan kebutuhan materi. Menurutnya, kehadiran ayah menjadi fondasi utama dalam pengasuhan yang memengaruhi perkembangan fisik, mental, dan emosional anak.
"Kewajiban pertama seorang ayah adalah hadir untuk anak. Bukan hanya hadir secara status, tetapi benar-benar dirasakan kehadirannya," ujarnya. "Setelah itu mengasuh, memelihara, mendidik, hingga memberikan nafkah. Semua itu merupakan kewajiban yang melekat pada seorang ayah."
Ia menjelaskan, fenomena father wound muncul ketika anak kehilangan peran ayah, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga pola hubungan anak saat dewasa.
"Memberikan nafkah memang merupakan kewajiban seorang ayah, kata Arini. “Namun, komunikasi, perhatian, memastikan anak sehat secara fisik dan mental, mendidik, serta mendampingi perkembangan spiritualnya juga menjadi bagian dari kewajiban ayah dalam Islam.”
Dalam kesempatan itu, mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab UIN Antasari, Mariatul Kiftah, membagikan pengalamannya tumbuh tanpa kehadiran ayah setelah orang tuanya bercerai. Meski komunikasi dengan ayah masih terjalin sesekali, seluruh kebutuhan hidup dan pendidikannya dipenuhi oleh sang ibu.
Mariatul mengaku pengalaman tersebut membentuk harapannya untuk memiliki pasangan yang bertanggung jawab terhadap keluarga pada masa mendatang. Ia berharap setiap anak dapat merasakan kehadiran ayah yang utuh, baik secara fisik maupun emosional.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Perbandingan Mazhab lainnya, Salim, memiliki pengalaman berbeda. Meski komunikasi dengan ayah berkurang sejak menempuh pendidikan di pondok pesantren, ia tetap merasakan perhatian melalui kerja keras ayahnya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
| Baca juga: BNN: Penyalahgunaan Lem Ancam Generasi Muda |
Ayah Salim yang berjualan pentol bersama istrinya menjadi teladan tentang disiplin, tanggung jawab, dan pengorbanan demi pendidikan anak. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa kasih sayang orang tua dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk pengorbanan.
Menanggapi kisah kedua mahasiswa tersebut, Arini menegaskan bahwa setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Menurutnya, pengalaman masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk membangun keluarga yang lebih baik pada masa depan.
Ia menambahkan, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak perlu terus dibangun agar tidak menimbulkan luka emosional yang berkepanjangan. Berbagai upaya, termasuk Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) yang mendorong keterlibatan ayah dalam aktivitas anak, dinilai menjadi langkah positif untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....