BPBD dan BKSDA Pasang GPS Collar pada Gajah Liar di Aceh Barat

  • 17 Jul 2026 16:58 WIB
  •  Meulaboh
Poin Utama
  • BPBD Kabupaten Aceh Barat bersama BKSDA Aceh melalui CRU berhasil memasang GPS collar pada seekor gajah liar di Desa Pungki pada 16 Juli 2026 sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik manusia dan satwa liar
  • Alat pelacak GPS collar dipasang untuk memantau pola pergerakan gajah liar secara berkala sehingga potensi konflik dengan masyarakat dapat diantisipasi dan dicegah lebih dini

RRI.CO.ID, Meulaboh - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui Conservation Response Unit (CRU) melaksanakan pemasangan GPS collar pada seekor gajah liar di Desa Pungki, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar yang kerap terjadi di kawasan tersebut.

Proses pemasangan GPS collar telah dimulai sejak Rabu, 15 Juli 2026 dan hingga Kamis malam masih terus berlangsung. Alat pelacak tersebut dipasang untuk memantau pola pergerakan gajah liar secara berkala sehingga potensi konflik dengan masyarakat dapat diantisipasi lebih dini.

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim juga mendatangkan dua ekor gajah jinak dari CRU Sare, Kabupaten Aceh Besar. Kehadiran gajah jinak itu bertujuan membantu proses pendekatan terhadap gajah liar, mempermudah pemasangan GPS collar, sekaligus menggiring kawanan gajah agar proses penanganan berlangsung aman dan efektif.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, di antaranya tim BKSDA Aceh, Pusat Kajian Satwa Liar Fakultas Kedokteran Hewan (PKSLFKH) Universitas Syiah Kuala (USK), CRU Aceh, serta Wildlife Response Unit (WRU) BPBD Kabupaten Aceh Barat.

Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengatakan pemasangan GPS collar diharapkan menjadi langkah strategis dalam meningkatkan efektivitas penanganan konflik satwa liar dengan masyarakat.

"Melalui pemasangan GPS collar pada gajah liar yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat di Gampong Pungki, kami berharap pergerakan satwa tersebut dapat dipantau secara berkala. Dengan demikian, pola penanganan yang selama ini bersifat reaktif, yakni dilakukan setelah konflik terjadi, dapat beralih menjadi upaya preventif sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat ketika gajah terdeteksi mendekati permukiman atau perkebunan warga," ujarnya.

"Selain untuk mitigasi konflik, pemasangan GPS collar ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian gajah Sumatra di Kabupaten Aceh Barat. Data yang diperoleh akan membantu kami memahami wilayah jelajah (home range) gajah serta mengidentifikasi secara rinci jalur koridor pergerakan gajah dari kawasan Woyla menuju Teunom," katanya.

Data yang diperoleh dari GPS collar akan menjadi dasar dalam penyusunan strategi pengelolaan habitat, perlindungan satwa, serta pengambilan kebijakan konservasi di Kabupaten Aceh Barat.

Pemerintah berharap kolaborasi antara BPBD, BKSDA, akademisi, dan berbagai pihak terkait dapat memperkuat upaya pelestarian gajah Sumatra sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih harmonis antara manusia dan satwa liar di wilayah Aceh Barat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....