Fenomena Mbediding Menyelimuti Area Gunung Merbabu, Pendaki Diminta Waspada

  • 15 Jul 2026 15:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Fenomena bediding masih menyelimuti kawasan Gunung Merbabu. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau seluruh calon pendaki untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan ekstra saat melakukan pendakian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai fenomena bediding atau penurunan suhu udara yang signifikan ini merupakan siklus alam yang normal terjadi saat wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau, yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Anggit Haryoso mengatakan bahwa fenomena bediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1 derajat, sehingga dihimbau para pendaki untuk tetap menjaga kewaspadaan.

"Peringatan BMKG mengenai puncak

kemarau, fenomena bediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1 derajat celsius di lapangan. Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat," kata Anggit Haryoso dalam keterangan tertulis yang diterima RRI.CO.ID pada Senin, 13 Juli 2026.

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) juga mengajak seluruh komunitas pencinta alam dan masyarakat luas untuk bersama-sama menerapkan prinsip Safety First demi mewujudkan aktivitas wisata alam yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.

Dari data pemantauan yang dimiliki BTNGMb, pada 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu udara mencapai 6 derajat dan tingkat kelembaban mencapai 54 persen, serta pada 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB mencapai -1 derajat dengan tingkat kelembaban mencapai 46 persen.

Hal itu menunjukkan bahwa suhu udara di kawasan TN Gunung Merbabu pada musim kemarau dapat turun hingga di bawah 10 derajat celsius, bahkan mencapai -1 derajat celsius pada dini hari.

Paparan udara dingin dianggap mampu meningkatkan risiko hipotermia. Pendaki diminta untuk mengenali gejala-gejala hipotermia seperti bibir menggigil, penurunan konsentrasi, berbicara terbata-bata hingga tubuh terasa lemas.

Ditambahkan Anggit Haryoso, bahwa jika mengalami gejala-gejala tersebut, pendaki bisa mengkonsumsi minuman hangat dan segera melaporkan kepada petugas lapangan untuk memberikan penanganan secara cepat.

"Apabila gejala tersebut mulai muncul, jangan memaksakan melanjutkan perjalanan. Segera cari lokasi yang terlindung dari angin, ganti pakaian yang basah dengan pakaian kering, hangatkan tubuh secara bertahap, konsumsi minuman hangat apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada petugas apabila kondisi tidak membaik," katanya menambahkan.

Sebagai wujud komitmen terhadap keselamatan pengunjung, Balai TN Gunung Merbabu juga telah menyediakan Shelter Emergency yang terletak di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting. Fasilitas ini berfungsi sebagai pos penanganan awal dan ruang pertolongan pertama bagi pendaki. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....