Musim Bediding, BPBD Karanganyar Ingatkan Pendaki Bahaya Hipotermia

  • 03 Jun 2026 20:33 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar meminta para pendaki yang hendak melakukan aktivitas penjelajahan di jalur pendakian Gunung Lawu untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra selama berlangsungnya fenomena bediding. Langkah antisipasi ini dinilai sangat penting, mengingat suhu dingin ekstrem di awal musim kemarau berpotensi memicu gangguan kesehatan fatal bagi para pencinta alam di atas gunung.

Kalakhar BPBD Karanganyar, Hendro Prayitno, mengungkapkan berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca saat ini telah resmi memasuki masa transisi kemarau yang dibarengi dengan penurunan suhu udara secara drastis.

Fenomena alam tahunan ini menuntut kesiapan fisik dan logistik yang matang agar para pendaki mampu bertahan di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang.

“Perlu kami sampaikan terkait situasi cuaca saat ini yang sudah mulai memasuki musim kemarau bersamaan dengan datangnya musim bediding. Bediding itu merupakan kondisi suhu dingin di awal kemarau sehingga masyarakat di Kabupaten Karanganyar, khususnya bagi para pendaki gunung, harus benar-benar menjaga kondisi badannya agar tidak terlalu kedinginan saat berada di atas,” kata Hendro Prayitno saat dikonfirmasi RRI, Rabu 3 Juni 2026.

Hendro menekankan pentingnya perlengkapan pelindung tubuh yang memadai bagi setiap pendaki sebelum memutuskan untuk melakukan perjalanan ke puncak gunung. Manajemen stamina dan asupan nutrisi yang tepat juga memegang peranan vital untuk membantu metabolisme tubuh tetap bekerja optimal dalam menghalau udara dingin ekstrem.

“Para pendaki harus memperhatikan beberapa hal penting seperti wajib memakai pakaian yang hangat, jaket gunung, serta membawa selimut untuk menjaga stamina tetap baik. Kami mengimbau masyarakat untuk memakai pakaian tebal berlapis agar badan selalu sehat, serta memenuhi kebutuhan nutrisi berkalori, berlemak, atau mengonsumsi jahe, cokelat, dan kopi untuk membantu metabolisme tubuh,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hendro memperingatkan ancaman nyata berupa serangan hipotermia yang kerap mengintai para pendaki ketika tubuh gagal beradaptasi dengan penurunan suhu di ketinggian. Oleh karena itu, mengenali gejala awal dari penurunan suhu tubuh secara drastis menjadi kunci utama dalam melakukan tindakan penyelamatan darurat di jalur pendakian.

“Para pendaki wajib waspada terhadap ancaman hipotermia di mana gejala awalnya ditandai dengan tubuh yang menggigil secara hebat, kulit menjadi pucat, serta pergerakan tubuh yang mulai melambat. Kami sangat mengimbau agar kesehatan benar-benar dijaga ketika mendaki di Gunung Lawu, jangan sampai naik dalam kondisi tidak sehat atau tidak siap karena bisa berbahaya di atas,” ucapnya.

Selain ancaman kesehatan, Kalakhar juga menyoroti potensi bencana lingkungan berupa kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh kelalaian manusia selama berkemah di kawasan hutan. Selain itu, pasokan air bersih bagi pemukiman warga terpantau masih aman, pengawasan terhadap aktivitas pembakaran di area rawan akan terus diperketat sepanjang musim kemarau ini.

“Kami menghimbau jangan sampai pendaki yang berkemah membuat api unggun lalu ditinggalkan begitu saja karena hal tersebut bisa memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Terkait dampak kekeringan berupa penurunan debit air, sampai hari ini kami juga belum menerima adanya aduan atau permintaan dropping air bersih dari masyarakat Karanganyar,” ucap Kalakhar.

Adapun, melalui koordinasi intensif bersama relawan dan petugas di setiap pos pendakian, BPBD Karanganyar berharap pelaksanaan wisata minat khusus ini tetap berjalan aman tanpa memicu insiden kedaruratan. Para pendaki pun diwajibkan melakukan registrasi resmi dan memastikan kondisi fisik mereka dalam keadaan prima sebelum memulai pendakian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....