BRIN Ungkap Misteri Cahaya Biru di Langit Majalengka
- 12 Jul 2026 22:08 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Majalengka - Langit malam di wilayah Majalengka, Jawa Barat, mendadak berubah dramatis pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kilatan cahaya biru melesat cepat, membelah gelapnya angkasa dan memicu kehebohan warga.
Dalam hitungan detik, fenomena tersebut viral di media sosial, memunculkan beragam spekulasi, mulai dari benda asing hingga dugaan fenomena supranatural. Namun di balik kepanikan publik, penjelasan ilmiah perlahan mengurai misteri.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa fenomena cahaya tersebut merupakan meteor berukuran besar. Batuan antariksa ini memancarkan cahaya setelah memasuki atmosfer Bumi dan melintasi wilayah Pulau Jawa.
Berdasarkan analisis data dan laporan visual dari berbagai wilayah, meteor pertama kali terdeteksi saat melintas di atas Laut Jawa dan terlihat dari Bekasi sekitar pukul 21.22.35 WIB. Pada fase awal ini, objek masih berada di ketinggian tinggi sehingga tampak kecil dengan cahaya putih.
Seiring pergerakannya menuju arah tenggara, meteor mulai memasuki lapisan atmosfer yang lebih rendah. Gesekan ekstrem dengan udara pada ketinggian sekitar 120 kilometer memicu proses pembakaran, menghasilkan pancaran cahaya yang semakin terang dan berwarna.
Saat melintas di wilayah Jawa Barat bagian timur, termasuk Majalengka, cahaya meteor berubah menjadi biru terang. Pada fase ini pula, sejumlah warga di Cirebon dan Kuningan melaporkan adanya suara dentuman yang terdengar dari langit.
Thomas menjelaskan, suara tersebut merupakan gelombang kejut yang dihasilkan akibat kecepatan meteor yang sangat tinggi saat melintasi atmosfer bawah. "Suara dentuman terjadi karena gelombang kejut akibat meteor bergerak sangat cepat di atmosfer bawah," katanya pada Minggu, 12 Juli 2026.
Fenomena ini tidak hanya terlihat di Majalengka. Di wilayah Nagreg, meteor terpantau sekitar pukul 21.23.37 WIB, sementara di Tasikmalaya objek tampak sebagai cahaya terang yang menembus lapisan awan.
Perjalanan meteor berlanjut hingga wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB. Di lokasi tersebut, warna cahaya berubah menjadi hijau, yang menurut Thomas disebabkan oleh terbakarannya unsur magnesium dalam batuan antariksa akibat suhu ekstrem.
"Warna hijau muncul karena unsur magnesium pada batuan antariksa terbakar saat bergesekan dengan atmosfer," ucapnya. Berdasarkan analisis sementara, meteor tersebut diduga tidak mencapai daratan dan akhirnya jatuh ke Samudera Hindia, tepatnya di selatan Jawa Timur atau Bali.
Peristiwa langka ini menjadi pengingat bahwa aktivitas benda langit di sekitar Bumi berlangsung secara dinamis dan dapat terjadi kapan saja. Fenomena tersebut tidak hanya menghadirkan pemandangan yang spektakuler, tetapi juga memberikan kesan menegangkan bagi masyarakat yang menyaksikannya secara langsung.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....