Sudah Mapan Namun Pilih Melajang, Guru Besar UNP Kupas Penyebabnya
- 02 Jul 2026 21:04 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID,Bukittinggi - Fenomena seseorang telah memiliki pekerjaan tetap, penghasilan yang layak, dan kehidupan yang mapan, namun belum juga menikah, kini menjadi perhatian kalangan akademisi. Kondisi tersebut dinilai semakin sering dijumpai, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.
Guru Besar Bidang Konseling Keluarga dan Masyarakat Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) Prof. Dr. Yarmis Syukur, M.Pd.Kons mengatakan fenomena itu bukan lagi sekadar cerita, tetapi kenyataan yang ditemuinya langsung di lapangan. Kepada RRI di Bukittinggi,
ia mengaku melihat sejumlah rekan sejawat yang telah sukses dalam karier, namun hingga kini belum menemukan pasangan hidup untuk membangun rumah tangga.
| Baca juga: Hadapi Tantangan Dengan Empat Pertahanan |
Menurut Yarmis, kemapanan ekonomi ternyata bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang siap memasuki jenjang pernikahan. Di balik kesuksesan karier, terdapat berbagai persoalan psikologis, sosial, hingga budaya yang kerap menjadi penghambat seseorang membangun keluarga.
"Orang sudah mapan, pekerjaannya baik, tetapi belum juga menemukan pasangan hidup. Fenomena seperti ini nyata terjadi dan saya temukan sendiri di lingkungan sekitar," ujarnya.
Guru Besar asal Solok yang juga berprofesi sebagai konselor di UNP itu menjelaskan, salah satu penyebab keterlambatan menikah adalah lemahnya komitmen dan kemampuan saling menguatkan dalam menjalin hubungan. Menurutnya, membangun rumah tangga membutuhkan kesiapan emosional, komunikasi yang sehat, serta kemauan kedua belah pihak untuk bertumbuh bersama.
Ia menilai banyak hubungan kandas bukan karena persoalan ekonomi, melainkan karena kurangnya kemampuan pasangan dalam membangun kepercayaan, saling mendukung, dan menyelesaikan konflik secara dewasa. Akibatnya, hubungan yang telah terjalin cukup lama pun berakhir tanpa kepastian menuju pernikahan.
Selain persoalan pasangan, campur tangan keluarga juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Yarmis mengungkapkan masih banyak orang tua yang memiliki pandangan berbeda dengan pilihan anaknya dalam menentukan pasangan hidup. Ketidaksepahaman tersebut sering kali memicu konflik berkepanjangan hingga berujung pada gagalnya rencana pernikahan.
"Bahkan ada yang akhirnya patah hati karena pilihan anak tidak mendapat restu orang tua atau sebaliknya, sehingga hubungan yang sudah dibangun harus berakhir," katanya.
Menurut Yarmis, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda saat ini.
Di satu sisi mereka dituntut sukses dalam pendidikan dan karier, namun di sisi lain menghadapi tekanan sosial dan keluarga ketika menentukan pasangan hidup.
Karena itu, ia menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Restu keluarga tetap penting, namun aspirasi dan pilihan anak juga perlu dihargai agar keputusan membangun rumah tangga lahir dari kesepahaman, bukan keterpaksaan.
Yarmis berharap masyarakat tidak lagi memandang pernikahan hanya dari aspek usia atau kemapanan ekonomi semata. Yang lebih penting adalah kesiapan mental, kedewasaan emosional, kemampuan berkomunikasi, serta adanya dukungan keluarga agar rumah tangga yang dibangun benar-benar menjadi keluarga yang harmonis dan mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (JM/RRI BKT)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....