Kehangatan Bupati Minahasa Mengobati Rindu Warga Kawanua di Makassar

  • 30 Jun 2026 19:06 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Minahasa - Tangan seorang lansia tampak sedikit bergetar saat menyambut uluran tangan di hadapannya. Namun, senyum di wajahnya merekah begitu lebar. Di depannya berdiri Bupati Minahasa, Robby Dondokambey, S.Si., M.AP., yang mengulurkan tangan dengan penuh hormat. Tubuhnya sedikit membungkuk, sebuah gestur sederhana yang memancarkan penghormatan tulus kepada perempuan sepuh yang pagi itu mengenakan gaun brokat kuning cerah.

Di sampingnya, Ketua TP-PKK Kabupaten Minahasa, Ny. Martina W. Dondokambey-Lengkong, turut menyapa dengan senyum hangat. Momen singkat itu menjadi gambaran kedekatan yang terjalin tanpa sekat antara pemimpin dan masyarakat.

Suasana penuh keakraban tersebut terekam pada Minggu pagi, 28 Juni 2026, di Gereja GMIM Jemaat Maranatha Makassar, Sulawesi Selatan. Bagi warga Kawanua di perantauan, gereja ini bukan sekadar tempat beribadah. Ia telah menjadi rumah bersama, tempat iman, budaya, dan kerinduan akan Tanah Toar Lumimuut bertemu dalam satu ruang yang hangat.

Jauh dari kampung halaman, kehadiran Bupati Minahasa bukanlah kunjungan dengan protokoler pemerintahan yang kaku. Pagi itu, Robby Dondokambey datang sebagai seorang warga jemaat. Ia hadir untuk beribadah bersama.

Namun, bagi masyarakat Minahasa yang telah lama bermukim di Makassar, kehadiran pemimpin dari daerah asal menghadirkan makna yang lebih dalam. Seolah menjadi pengobat rindu terhadap tanah kelahiran yang mereka tinggalkan demi pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan baru.

GMIM Maranatha Makassar selama ini memang memikul fungsi yang istimewa. Selain menjadi tempat bersekutu, gereja tersebut juga menjadi simpul persaudaraan warga Kawanua di Sulawesi Selatan, menjaga identitas budaya sekaligus mempererat tali kekeluargaan.

Hari itu, ibadah terasa semakin bermakna. Di bagian depan altar, sebuah baliho berwarna ungu menampilkan tema, "Hiduplah sebagai terang yang membuahkan kebaikan, keadilan, dan kebenaran" (Efesus 5:9).

Sementara subtema ibadah mengajak seluruh jemaat untuk bersama-sama mewujudkan masyarakat majemuk yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan hidup berdamai dengan segenap ciptaan Allah.

Pesan tersebut terasa relevan dengan kehidupan bangsa yang beragam. Menjadi terang bukan hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap yang menghadirkan kasih, keadilan, dan penghormatan kepada sesama.

Suasana ibadah semakin hangat ketika formalitas mencair. Bupati Minahasa bersama rombongan, termasuk Sekretaris DPRD Kabupaten Minahasa, diundang maju ke depan altar untuk mempersembahkan sebuah pujian.

Dengan mengenakan kemeja kotak-kotak biru putih, Robby Dondokambey berdiri sambil memegang telepon genggam untuk membaca lirik lagu. Di sampingnya, Ny. Martina W. Dondokambey-Lengkong yang tampil anggun dengan gaun merah marun turut menyanyikan pujian bersama jemaat.

Tidak ada jarak antara pemimpin dan umat. Suara mereka larut dalam harmoni pujian yang memenuhi ruang ibadah, menyatu bersama seluruh jemaat yang hadir.

Usai ibadah, kebersamaan berlanjut dalam sesi foto bersama di tangga altar. Semua berdiri sejajar sambil tersenyum menghadap kamera.

Di hadapan mereka, tiga lilin putih menyala tenang di atas meja altar yang dihiasi rangkaian bunga kuning dan putih. Seperti pesan yang digaungkan sepanjang ibadah pagi itu, menjadi terang tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Terkadang, ia hadir dalam sebuah senyuman, uluran tangan yang tulus, penghormatan kepada orang tua, serta kebersamaan yang mampu menghangatkan hati sesama, bahkan jauh dari kampung halaman.

(Jeff Assa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....