Kemarau Mulai Terasa, Pemkab Rembang Minta Petani Perhitungkan Ketersediaan Air

  • 30 Jun 2026 18:09 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Rembang - Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang mengingatkan petani untuk memperhitungkan ketersediaan air di tengah musim kemarau yang mulai dirasakan dalam beberapa pekan terakhir. Langkah tersebut dinilai penting untuk meminimalkan risiko gagal panen, terutama pada komoditas yang membutuhkan banyak pasokan air.

Kepala Dintanpan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan berdasarkan kondisi cuaca dalam lebih dari dua pekan terakhir, wilayah Rembang hampir tidak diguyur hujan. Saat ini masih terdapat sejumlah tanaman yang dibudidayakan petani, seperti padi, tembakau, dan berbagai jenis palawija.

Agus Iwan mengaku telah menyosialisasikan kondisi cuaca dan potensi dampak musim kemarau kepada para petani di Kabupaten Rembang. Dengan informasi tersebut, petani diharapkan dapat memperhitungkan pola tanam dan kebutuhan air sesuai kondisi di lapangan.

Untuk komoditas yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, Dintanpan meminta petani memastikan ketersediaan sumber air. Hal itu guna mengurangi risiko gagal panen selama musim kemarau.

“Secara umum kami sudah menyampaikan kondisi ini ke petani-petani kita sehingga sudah berhitung. Harapan kami terhadap tanaman yang memang sangat butuh air, pastikan ada sumber air,” ujar Agus, Selasa, 30 Juni 2026.

Pihaknya mengungkapkan, kondisi sejumlah embung di Kabupaten Rembang mulai mengalami penyusutan debit air. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mulai mengering, meski masih ada embung yang mampu menyuplai kebutuhan irigasi petani melalui pengaturan pemanfaatan air yang disepakati bersama.

“Nah, kondisi embung-embung kita memang rata-rata sudah mulai surut, beberapa sudah mulai habis, ada yang masih bisa. Yang kami lihat, sudah ada pengaturan pengelolaan pemanfaatan air, jadi ada yang dibagi sesuai kebutuhan petani, ada juga kebijakan tertentu di masing-masing daerah,” katanya.

Agus menilai keberadaan embung selama ini cukup membantu petani menjaga ketersediaan air hingga masa panen. Untuk memperkuat cadangan air saat kemarau, Dintanpan berencana melaksanakan program embung partisipatif mulai awal Juli.

Terkait kecukupan air hingga akhir tahun, Agus menyebut hal itu sangat bergantung pada jenis komoditas yang ditanam petani. Tanaman padi menjadi yang paling rentan terdampak apabila kemarau berlangsung panjang, sementara tembakau dan sebagian tanaman palawija relatif lebih tahan karena kebutuhan airnya tidak sebesar padi.

“Kalau untuk padi yang memang butuh air banyak, itu yang nanti kita riskan. Tapi kalau untuk tembakau dan sejenisnya, kebutuhan airnya tidak begitu banyak pada bulan pertama dan kedua, sehingga relatif lebih kuat,” ungkapnya.

Selain mengandalkan embung, pemerintah juga terus melakukan berbagai intervensi untuk mendukung ketahanan sektor pertanian saat musim kemarau. “Intervensi artifisial seperti bantuan sumur dalam, irigasi dan yang lainnya, harapan kami nanti membantu petani di musim-musim kemarau,” ucap Agus.

Ia menyebut wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus selama musim kemarau antara lain Kecamatan Pancur, Sulang, dan Bulu yang memiliki keterbatasan sumber air. Sementara wilayah Kaliori dan Sumber dinilai relatif lebih terbantu dengan keberadaan sumber-sumber air yang masih tersedia.

“Kalau kemarau hampir merata di Rembang. Cuma Kaliori dan Sumber itu sudah lumayan ada sumber-sumber air. Kemudian daerah Pancur, Sulang, dan Bulu itu yang memang harus betul-betul memperhatikan kemampuan airnya,” ucapnya. (Mif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....