Data BPS: 30 Persen Anak Usia Dini di Kota Cirebon Sudah Main Internet
- 28 Jun 2026 20:43 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Tingginya penggunaan internet oleh anak sejak usia dini disertai meningkatnya risiko kekerasan berbasis digital menjadi perhatian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan digelarnya Pelatihan Literasi Digital Masyarakat Umum dan Anak bertajuk Digital Parenting Talk: Kenali PP TUNAS (Tunggu Anak Siap), Lindungi Anak di Dunia Digital di Ruang Adipura Kencana Balai Kota Cirebon, Sabtu, 27 Juni 2026.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Puslitbang BPSDM) Komdigi, Rizki Ameliah, menyebut anak-anak di Kota Cirebon kini telah memasuki ruang digital sejak usia yang sangat dini. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan literasi digital bagi orang tua dan lingkungan sekitar agar penggunaan internet oleh anak dapat didampingi secara optimal.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, penetrasi penggunaan internet pada anak usia dini di Kota Cirebon berada pada kisaran 39 hingga 50 persen pada kelompok usia tertentu. Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan penetrasi internet pada anak usia lima hingga enam tahun telah mencapai sekitar 30 persen.
"Fakta di lapangan, anak-anak Indonesia khususnya di Kota Cirebon ternyata sudah memasuki dunia digital sejak usia yang sangat dini. Data BPS menunjukkan penetrasi internet pada anak usia lima sampai enam tahun telah mencapai 30 persen," katanya.
Baca juga: Melalui PP TUNAS, Komdigi Upayakan Ruang Digital yang Ramah Anak
Selain tingginya penggunaan internet, Komdigi juga menyoroti adanya kasus kekerasan terhadap anak yang berkaitan dengan aktivitas di ruang digital. Berdasarkan data DP3APPKB Kota Cirebon, tercatat sebanyak 126 anak menjadi korban berbagai bentuk kekerasan sepanjang periode 2023 hingga 2025 dan sebagian kasus memiliki keterkaitan dengan penggunaan media sosial maupun platform digital.
"Data DP3APPKB mencatat sebanyak 126 anak pernah menjadi korban berbagai bentuk kekerasan sepanjang periode 2023 sampai 2025. Sejumlah kasus tersebut memiliki keterkaitan atau dipicu oleh penggunaan media sosial maupun platform digital, salah satunya melalui cyber child grooming dan cyber bullying," ujar.
Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber dalam kegiatan tersebut dapat membantu peserta memahami berbagai bentuk ancaman di ruang digital sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mendampingi anak menggunakan internet secara sehat. Edukasi seperti ini dinilai penting agar keluarga mampu menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari berbagai risiko digital.
"Semoga hari ini banyak manfaatnya, bawa pulang ke rumah informasi yang didapatkan dari para narasumber. Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan agar masyarakat semakin cakap dalam mendampingi anak di dunia digital," ucap Rizki.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....