Aksi Kupang Book Party Bumikan 'Beta Membaca Maka Beta Ada'

  • 27 Jun 2026 12:04 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Di tengah potret buram rendahnya indeks minat baca masyarakat Indonesia—khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT)—sebuah gerakan literasi akar rumput berbasis anak muda kini tengah bergeliat di Kota Kupang. Gerakan ini diwadahi oleh komunitas bernama Kupang Book Party yang bergerak di bawah naungan jaringan nasional Indonesia Book Party.

Komunitas ini hadir bukan sekadar sebagai tempat berkumpul, melainkan sebagai bentuk perlawanan damai terhadap stigma bahwa anak muda NTT malas membaca. Hadir sebagai narasumber dalam program Obrolan Kita Indonesia di Pro 4 RRI Kupang pada Jumat, 26 Juni 2026, Founder Kupang Book Party, Mey Weo, menceritakan awal mula gerakan ini terbentuk.

Mey mengungkapkan bahwa komunitas ini lahir dari kegelisahan personal melihat minimnya ruang publik yang aman dan inklusif bagi pencinta buku di Kupang. Selama ini, aktivitas membaca sering kali dicap sebagai kegiatan yang membosankan, kaku, individualis, atau bahkan dicap "sok pintar" oleh lingkungan sekitar.

Lewat gerakan ini, Kupang Book Party ingin mematahkan stigma lama yang menganggap bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan atau hanya milik mereka yang dicap sebagai "kutu buku". Mey menegaskan bahwa membaca bisa bertransformasi menjadi sebuah gaya hidup (lifestyle) yang keren, dinamis, dan kasual bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang.

"Kami ingin mendobrak stigma itu, Kupang Book Party dibentuk untuk membuktikan bahwa membaca itu bisa menjadi aktivitas sosial yang seru, menyenangkan, dan dilakukan bersama-sama di ruang terbuka. Membaca bukan lagi soal menjadi kutu buku yang menyendiri, tapi cara kita bersosialisasi dan berbagi isi kepala," kata Mey.

Mengenai kondisi minat baca saat ini, Mey tidak menampik tantangan besar yang dihadapi generasi muda di NTT. Distraksi gawai (gadget) dan kurangnya akses terhadap buku-buku yang menarik sering kali membuat budaya tutur jauh lebih dominan dibanding budaya baca.

Namun, lewat kehadiran Kupang Book Party yang rutin menggelar sesi membaca bersama di taman atau pantai, anak-anak muda di Kupang perlahan mulai menemukan kembali gairah membaca mereka (reading habit). Menariknya, komunitas ini mengusung sebuah jargon yang sarat akan makna mendalam: "Beta Membaca Maka Beta Ada".

Filosofi yang diadaptasi dari bahasa lokal ini menjadi ruh utama pergerakan mereka. Menurut Mey, esensi dari kalimat tersebut melambangkan penegasan eksistensi diri anak muda NTT melalui ilmu pengetahuan.

Melalui membaca, seseorang tidak hanya sekadar 'hidup', tetapi benar-benar 'ada' karena memiliki isi kepala, pemikiran yang kritis, serta wawasan yang luas untuk membangun daerahnya. Membaca menjadi alat bagi anak muda Kupang untuk menunjukkan identitas dan sumbangsih nyata mereka kepada dunia luar.

Sejak pertama kali digulirkan, Kupang Book Party kini terus menarik minat puluhan hingga ratusan bookmates (sebutan untuk anggota komunitas) di Kupang untuk rutin membawa buku kesukaan mereka setiap akhir pekan, duduk melingkar, membaca bersama, dan saling bertukar perspektif. (TT)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....