NTB Dorong Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak untuk Tekan Stunting
- 26 Jun 2026 09:06 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai persoalan stunting tidak hanya berakar pada kekurangan gizi, tetapi juga pada pola pengasuhan anak di dalam keluarga.
- Pengasuhan yang baik menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai persoalan anak, termasuk stunting.
RRI.CO.ID, Lombok Tengah – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai persoalan stunting tidak hanya berakar pada kekurangan gizi, tetapi juga pada pola pengasuhan anak di dalam keluarga. Minimnya keterlibatan orang tua, terutama ayah, menjadi salah satu persoalan yang mulai disoroti pemerintah.
Melalui Program BKOW KUAT (Komunitas Unggul Anak Tangguh) yang diluncurkan di Desa Barabali, Kabupaten Lombok Tengah, Kamis, 25 Juni 2026, pemerintah mendorong perubahan cara pandang dalam menangani stunting. Pengasuhan anak menjadi salah satu fokus utama selain intervensi kesehatan dan ekonomi.

Ketua TP PKK Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, mengatakan keberhasilan pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh program bantuan, tetapi juga kualitas hubungan orang tua dengan anak. Ia menyoroti fenomena fatherless parenting, yakni kondisi ketika ayah ada secara fisik tetapi minim keterlibatan dalam proses pengasuhan.
“Bapak harus meluangkan waktu bersama anak. Tidak harus dengan hal besar, cukup menemani tidur atau mendengarkan cerita anak ketika pulang sekolah. Hal sederhana seperti itu sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak,” kata Sinta.
Menurut dia, pengasuhan yang baik menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai persoalan anak, termasuk stunting. Karena itu, kader dan masyarakat diminta tidak hanya fokus pada persoalan kesehatan, tetapi juga memperkuat peran keluarga.
“Permasalahan Desa Berdaya bukan semata-mata masalah kesehatan. Pendampingan terhadap pengasuhan juga harus diperkuat,” ujarnya.
Sinta menyebut NTB masih menghadapi tantangan dalam pola pengasuhan, terutama ketika anak harus diasuh oleh keluarga lain karena orang tua bekerja di luar daerah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi perhatian terhadap kebutuhan gizi, kesehatan, dan perkembangan anak.
Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri, mengatakan persoalan stunting harus dilihat secara menyeluruh. Menurut dia, kemiskinan ekstrem, pendidikan, kesehatan, dan pola asuh keluarga memiliki keterkaitan yang kuat.
“Desa Berdaya hadir untuk memerangi kemiskinan ekstrem yang di dalamnya mencakup persoalan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” kata Indah.
Ia meminta pemerintah desa, kader Posyandu, dan Tim Penggerak PKK menjadi penggerak utama dalam mendeteksi persoalan keluarga sejak dini. Pendekatan pencegahan, kata dia, harus lebih dikedepankan dibandingkan penanganan setelah masalah muncul.
Selain penguatan pola asuh, pemerintah juga mendorong edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan usia dini yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko lahirnya anak stunting.
Desa Barabali dipilih sebagai lokasi peluncuran BKOW KUAT karena menjadi salah satu desa binaan BKOW NTB. Di desa tersebut terdapat sekitar 6.000 kepala keluarga yang dilayani 115 kader dari 23 Posyandu. Data per 18 Juni 2026 mencatat masih ada 100 anak mengalami stunting.
Program BKOW KUAT kemudian diperkuat dengan berbagai layanan masyarakat, mulai dari pemeriksaan kesehatan gratis, pemberian tablet tambah darah bagi pelajar, bantuan untuk lansia, bantuan telur bagi anak stunting, hingga pelatihan pengolahan makanan bergizi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....