Tanjung Priok Macet, Warga dan Aktivitas Ekonomi Jadi Korban
- 26 Mei 2026 14:37 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Kemacetan parah yang melumpuhkan akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok pada Senin sore hingga tengah malam kembali membuka persoalan lama: buruknya tata kelola distribusi logistik di kawasan pelabuhan terbesar Indonesia, kata pengamat. Ribuan kendaraan, termasuk truk kontainer, terjebak berjam-jam di Jalan Yos Sudarso hingga ruas tol menuju Priok.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menilai kemacetan tersebut bukan sekadar persoalan lonjakan aktivitas depo kontainer. Menurut dia, negara selama ini gagal membangun sistem akses pelabuhan yang terintegrasi dan terlalu bergantung pada jalan raya.

Ilustrasi trafik Lalu Lintas (Lalin) dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, pada Kamis (15/5/2024) pagi nampak lancar, setelah ada kerusakan sistem keluar masuk trailer. (Foto: RRI/Ilyas)
Baca juga:
- Politik Hukum Tata Ruang dan Resistensi Warga di Sekitar Tanjung Priok
- Hari ini Pembatasan Diterapkan di Jl. Cilincing Raya
Kemacetan panjang terjadi di Jalan Yos Sudarso menuju kawasan Pelabuhan Tanjung Priok sejak Senin sore, 25 Mei 2026. Data dari kantor berita Antara menyebut kemacetan dipicu aktivitas depo kontainer di BSA, Temas, dan Seacon. “Kemacetan ini akibat aktivitas depo kontainer di BSA, Temas, dan Seacon,” ujar Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara, Rudi Saptari, di Jakarta, Senin.
Rudi mengatakan petugas Sudinhub telah disiagakan di sejumlah titik, mulai dari Jalan Jampea, Jalan Yos Sudarso, TL Permai, Pos 9, hingga TL Kebon Baru untuk melakukan pengaturan arus lalu lintas. Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga Tol Ancol menuju Tanjung Priok dan akses dari arah Cawang, sementara sebagian sopir truk kontainer bahkan mematikan mesin kendaraan karena lalu lintas tak bergerak hingga malam hari.
Djoko mengatakan persoalan utama terletak pada ketergantungan distribusi logistik terhadap jalan raya. “Kalau dengan jalan, tetap juga tidak menyelesaikan masalah. Aktivitas di sekitar Tanjung Priok sudah sangat tinggi, sementara keluar masuk barang hanya mengandalkan jalan biasa,” ujar dia dalam wawancara bersama penyiar RRI Jakarta, Rouli Hutahaean, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurut Djoko, Indonesia justru meninggalkan sistem yang dulu telah dibangun sejak era kolonial. Ia menjelaskan pelabuhan-pelabuhan lama sebenarnya dirancang memiliki akses rel langsung hingga dermaga, tetapi jalur tersebut perlahan ditutup seiring pertumbuhan industri otomotif dan penggunaan truk logistik.

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia. (Foto:Dok.Narasumber)
“Belanda dulu sudah memikirkan akses jalan rel sampai ke dermaga. Sekarang yang masih tersisa hanya di Pelabuhan Cilacap. Yang lain hilang, ya wajar kalau macet,” ucapnya.
Ia menilai solusi memperluas depo kontainer di sekitar pelabuhan hanya akan memperparah kepadatan kawasan. Djoko menyarankan pembangunan pusat kontainer di luar area pelabuhan, kemudian distribusi menuju dermaga dilakukan menggunakan kereta barang agar tidak membebani jalan raya.
“Kita bangun kontainer jauh dari pelabuhan, lalu aksesnya memakai rel langsung ke dermaga. Jangan nanti turun lagi pakai truk, itu double handling dan biayanya mahal,” kata dia.
Djoko juga menyoroti tingginya ego sektoral antarlembaga yang membuat persoalan tak kunjung selesai. Menurut dia, pemerintah pusat harus mengambil alih penanganan kawasan logistik Tanjung Priok karena dampaknya sudah meluas ke masyarakat dan aktivitas ekonomi nasional.
“Kalau macet seperti ini, yang rugi masyarakat sekitar. Negara harus melihat secara makro, jangan diserahkan hanya ke Pelindo atau pemerintah daerah,” ujar dia.
Selain kerugian ekonomi dan terganggunya produktivitas warga, Djoko mengingatkan dampak paling serius adalah ancaman terhadap kondisi darurat. Ia mencontohkan kendaraan ambulans atau warga sakit dapat terhambat akibat lumpuhnya akses jalan.
“Kalau ada orang sakit bagaimana penanganannya? Saya kalau lihat macet selalu kepikiran kondisi darurat,” ucapnya.
Djoko menilai solusi jangka pendek seperti penambahan petugas lalu lintas hanya bersifat sementara. Ia mengatakan pemerintah harus segera menyiapkan solusi jangka menengah dan panjang, termasuk pengembangan jalur rel logistik serta insentif tarif tol agar truk kontainer tidak melintas di jalan arteri.
“Kalau terus hanya berpikir sesaat, nanti macet lagi baru sibuk lagi. Penyakit kita itu kumat-kumatan,” kata dia.
Menurut Djoko, pilihan solusi sebenarnya sudah jelas: memperbaiki akses jalan tol khusus logistik dengan tarif murah atau membangun kembali jalur rel langsung ke pelabuhan. Tanpa langkah besar tersebut, Djoko Setijowarno bilang, kemacetan menuju Tanjung Priok diyakini akan terus berulang.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....