Salat dan Kurban, Sarana Umat Islam Melawan Nafsu Dunia
- 26 Mei 2026 12:55 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Kuningan - Aktivis Majelis Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial (MPMKS) Muhammadiyah Kuningan, Asep Kamaludin, mengajak umat Islam menjadikan salat dan kurban sebagai bentuk rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari. Langkah ini penting dilakukan agar ibadah tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan maupun harian tanpa makna.
Dalam pengajian umum di Desa Pagundan pada Selasa, 26 Mei 2026, Asep menegaskan bahwa manusia merupakan makhluk paling sempurna karena diberi akal dan hidayah. "Dengan agama itulah, kita mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan taat melaksanakan perintah-Nya, serta meninggalkan larangan-Nya," ujarnya.
Ia menjelaskan, rasa syukur kepada Allah tidak cukup hanya diucapkan melalui kalimat tahmid semata. Menurutnya, rasa syukur tersebut harus diwujudkan melalui ibadah serta perilaku hidup yang sesuai dengan ajaran agama, katanya.
Dalam tausiyahnya, Asep juga mengutip Surat Al-Kautsar yang memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat dan berkurban atas nikmat Allah. Ia menilai kualitas salat seseorang tidak hanya diukur dari pelaksanaannya, tetapi juga dari dampaknya terhadap sosial.
Peningkatan kualitas ibadah tersebut ditandai dengan pengamalan nilai-nilai salat dalam kehidupan nyata di luar waktu salat. Asep mencontohkan pentingnya menjaga kesucian diri setelah berwudu, termasuk menjaga tangan dari perbuatan korupsi dan lisan dari kebohongan.
Ia juga menyoroti pentingnya integritas bagi profesi penegak hukum, pendidik, hingga wakil rakyat agar menjalankan tugas dengan jujur. Selain membahas salat, Asep menekankan makna kurban sebagai ibadah yang sangat dicintai Allah pada Hari Raya Iduladha.
"Tidak ada amalan yang diperbuat manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan," kata Asep mengutip Hadis Riwayat Tirmizi. Ia menambahkan bahwa ibadah kurban menjadi sarana melatih manusia untuk menundukkan hawa nafsu sekaligus meningkatkan kepedulian sosial.
Asep kemudian menyinggung fenomena sebagian umat Islam yang merasa tidak mampu berkurban, padahal pengeluarannya habis untuk hal tidak bermanfaat. "Ada di antara muslim yang sudah salat, tetapi lebih memilih menggunakan sebagian uangnya untuk membeli rokok daripada ditabung untuk berkurban," ucapnya.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam rutinitas ibadah yang kehilangan esensi moral di tengah kehidupan bermasyarakat. Dirinya menyayangkan nafsu hewani manusia yang masih besar, seperti maraknya tindakan korupsi dan sikap haus kekuasaan saat ini.
Di akhir tausiyahnya, Asep mengajak seluruh jemaah untuk serius meningkatkan kebermaknaan ibadah kepada Sang Pencipta. "Marilah kita secara serius meningkatkan kebermaknaan ibadah salat dan kurban sebagai wujud syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....