Bulog Ajak Mahasiswa Bandung Tinjau Gudang Beras

  • 24 Mei 2026 17:43 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengajak sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung meninjau Gudang Utama Bulog di Jalan Mahar Martanegara, Kota Cimahi, Minggu 24 Mei 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menunjukkan secara langsung kondisi ketahanan pangan nasional dan stok beras yang dimiliki pemerintah.

‎Mahasiswa yang hadir berasal dari sejumlah kampus, di antaranya Universitas Pendidikan Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Bandung. Dalam kegiatan itu, para mahasiswa diajak berdiskusi mengenai ketahanan pangan dan program swasembada beras nasional.

‎Ahmad mengatakan, kunjungan tersebut menjadi bukti bahwa swasembada pangan yang selama ini digaungkan pemerintah benar-benar nyata.

‎“ Kita saksikan bersama dengan adik-adik mahasiswa dari seluruh Bandung. Ini perwakilan dari UPI, dari Muhammadiyah dan lain sebagainya hadir di sini untuk tadi kita diskusi tentang ketahanan pangan, khususnya swasembada pangan beras. Nah ini untuk memperlihatkan ke adik-adik bahwa swasembada pangan itu nyata adanya,” ujar Ahmad, minggu 24 Mei 2026.


‎Ia menjelaskan, saat ini stok beras yang dimiliki Bulog mencapai sekitar 5,37 juta ton atau hampir 5,38 juta ton. Menurutnya, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dalam sejarah Indonesia dan cukup untuk menjaga stabilitas pangan nasional hingga pertengahan tahun 2027.

‎Ahmad menegaskan, meskipun dunia tengah menghadapi berbagai tantangan global seperti perubahan iklim dan dinamika ekonomi internasional, cadangan beras nasional dalam kondisi aman.‎“Namun dengan kondisi beras Bulog yang berlimpah ini mampu untuk menjaga kestabilan pangan sampai dengan pertengahan 2027 ke depan,” jelasnya.

‎Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga melihat langsung kualitas penyimpanan beras Bulog. Salah seorang mahasiswa mengaku optimistis terhadap kondisi ketahanan pangan nasional setelah menyaksikan langsung kualitas produk dan kemasan beras yang digunakan Bulog.

‎“Benar swasembada pangan, kualitas bagus dan kemasan juga tadi sempat diuji saat jatuh tidak mudah pecah karung kemasannya,” ujar salah seorang mahasiswa.

‎Selain membahas stok beras, Ahmad juga menjelaskan strategi Bulog dalam melibatkan tengkulak dalam ekosistem penyerapan gabah petani. Menurutnya, para tengkulak kini diarahkan menjadi transporter agar tetap memperoleh keuntungan tanpa mengganggu sistem penyerapan gabah oleh Bulog.

‎Bulog membeli gabah petani dengan harga Rp6.500 per kilogram di pinggir sawah. Setelah itu, para transporter mengangkut gabah menuju penggilingan mitra Bulog dan memperoleh kompensasi sebesar Rp200 per kilogram.

‎“Para tengkulak sekarang kami jadikan sebagai transporter. Jadi cukup menguntungkan untuk para tengkulak yang bertransformasi menjadi transporter, sehingga tidak mengganggu proses penyerapan ekosistem beras Bulog,” katanya.

‎Tak hanya itu, Bulog juga membuka peluang kerja sama dengan mahasiswa melalui koperasi kampus dan usaha mandiri. Ahmad menyebut mahasiswa dapat menjadi mitra Rumah Pangan Kita dengan menjual produk-produk Bulog seperti beras, minyak goreng, tepung, gula, dan kebutuhan pokok lainnya.

‎“Kami mengajak adik-adik dan sudah banyak yang mau daftar menjadi mitra kita. Jadi mahasiswa sekarang harus maju, harus hebat, harus mandiri, dan harus mampu menjadi entrepreneur,” tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....