Organisasi Pangan Dunia Dukung Konservasi Pala-Cengkeh Maluku Utara

  • 21 Mei 2026 11:44 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Maluku Utara menjadi salah satu dari tiga provinsi di Indonesia yang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan proyek konservasi tanaman asli berbasis sumber daya genetik melalui program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) yang digagas Kementerian Pertanian Republik Indonesia bersama Food and Agriculture Organization.

Program berskala internasional tersebut difokuskan pada upaya pelestarian komoditas lokal unggulan, khususnya cengkeh dan pala yang selama ini dikenal sebagai identitas rempah Nusantara dari kawasan Moloku Kie Raha.

Dukungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara terhadap program itu disampaikan Sekretaris Daerah Maluku Utara, Samsuddin A. Kadir, saat menerima audiensi tim Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BRMP Biogen) Kementerian Pertanian di Ternate, Kamis (21/5).

“Kita patut bersyukur dan menyambut baik karena hanya ada tiga provinsi di Indonesia yang dimasuki oleh kegiatan ini, yaitu Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, dan Maluku Utara. Jika organisasi pangan dunia atau FAO (Food and Agriculture Organization) sudah terlibat, itu artinya dunia internasional sudah turun tangan untuk menjaga kelestarian kekayaan alam kita,” katanya.

Menurut Samsuddin, proyek CDCSUI memiliki nilai strategis karena tidak hanya menjaga keberlanjutan tanaman rempah, tetapi juga memperkuat identitas historis Maluku Utara sebagai daerah asal cengkeh dan pala.

“Melalui proyek ini, kita berupaya menjaga keaslian bahwa cengkeh dan pala itu memang berasal dari kita. Mungkin saat ini cengkeh yang terkenal adalah varietas Zanzibar, tetapi hasil penelitian menunjukkan bahwa asal-usul Zanzibar itu sejatinya dari Maluku Utara,”kata Sekprov.

“Proyek ini tidak hanya mengangkat nama baik dan keharuman daerah di kancah global, tetapi yang terpenting adalah meningkatkan produktivitas dan ekonomi petani kita,”.

Sementara itu, Kepala BRMP Biogen Kementan RI, Atekan, menjelaskan bahwa proyek CDCSUI berorientasi pada perlindungan kekayaan hayati Indonesia berbasis konservasi sumber daya genetik.

Secara nasional, terdapat lima komoditas utama yang menjadi fokus proyek, yakni padi lokal, talas, uwi, cengkeh, dan pala. Namun, untuk wilayah Maluku Utara, perhatian utama diarahkan pada pengembangan dan pelestarian cengkeh serta pala.

“Khusus di Maluku Utara, fokus utama kita adalah cengkeh dan pala. Kita semua tahu daerah ini adalah sumber daya genetik yang luar biasa untuk kedua komoditas tersebut. Sudah sepatutnya ini kita angkat bersama,” ungkapnya.

Program yang direncanakan berlangsung hingga 2027 dan berpotensi diperpanjang sampai 2028 itu akan dipusatkan di Tidore Kepulauan dan Halmahera Selatan. Pendekatan proyek tidak hanya berbasis penelitian laboratorium, tetapi juga melibatkan pembinaan langsung kepada petani lokal.

“Kami akan mendampingi dan membina para petani lokal tentang bagaimana menjaga kelestarian cengkeh dan pala mereka, sekaligus bagaimana memberikan nilai tambah (value edded) agar pendapatan mereka meningkat. Target akhirnya, di ujung proyek ini kita bisa mengenalkan identitas dan kualitas unggul rempah Maluku Utara ini ke tingkat global,” katanya.

Memasuki tahap implementasi 2026, BRMP Biogen bersama pemerintah pusat dan daerah kini mulai memperkuat sinergi regulasi guna memastikan pelaksanaan proyek konservasi tersebut berjalan optimal dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....