Tonicko Anggara: Kemenangan API Award Bukan Tolak Ukur Pariwisata Berkualitas
- 20 Mei 2026 17:26 WIB
- Meulaboh
RRI.CO.ID, Aceh Selatan - Aktivis pariwisata Aceh, Tonicko Anggara, menilai kemenangan dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award tidak dapat dijadikan ukuran utama keberhasilan pembangunan sektor pariwisata di suatu daerah. Menurutnya, penghargaan tersebut lebih bersifat kompetisi popularitas yang ditentukan melalui mekanisme voting publik berbasis digital, sehingga sangat dipengaruhi kemampuan mobilisasi massa dan promosi daerah.
“Menang API Award bukan berarti otomatis pariwisata daerah itu sudah maju atau berkualitas. Pemerintah maupun publik tidak perlu terlalu berlebihan memaknainya sebagai kebanggaan besar,” ujar Tonicko, Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan, sistem penilaian API Award yang mengandalkan voting melalui SMS, aplikasi, dan platform digital membuat hasil akhir sangat dipengaruhi kekuatan jaringan komunitas dan kampanye publik.
“Pemenang API Award itu ditentukan oleh voting publik. Artinya sangat bergantung pada mobilisasi massa, jaringan komunitas, kemampuan kampanye digital, bahkan kekuatan promosi daerah. Jadi belum tentu destinasi yang menang itu memang terbaik secara kualitas,” katanya.
Tonicko menegaskan, indikator keberhasilan sektor pariwisata seharusnya diukur dari kualitas tata kelola destinasi, keberlanjutan pengelolaan, serta konsistensi kunjungan wisatawan.
“Pariwisata yang bagus itu ukurannya bukan hanya menang penghargaan. Tapi bagaimana tata kelolanya, sustainability-nya, dan apakah wisatawan terus datang secara konsisten. Walaupun tidak membludak, tetapi ada pergerakan wisata setiap hari. Itu baru menunjukkan kualitas,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah destinasi wisata di Aceh Selatan yang sempat viral dan meraih penghargaan API Award, namun dinilai belum mampu dipertahankan daya tariknya dalam jangka panjang.
Menurut Tonicko, Puncak Gemilang pada 2019 dan Sigantangsira yang meraih Juara I sekaligus Juara Favorit API Award 2021 sempat ramai dikunjungi wisatawan akibat efek tren dan euforia publik.
“Pada awalnya memang ramai dikunjungi karena efek FOMO dan euforia publik. Setelah itu bagaimana? Apakah masih ramai dikunjungi? Begitu juga beberapa destinasi lain yang akhirnya terbengkalai,” ungkapnya.
Selain destinasi wisata, Tonicko juga menyoroti produk kerajinan yang pernah meraih penghargaan API Award, seperti Cenderamata Rencong Batu. Ia menilai keberhasilan tersebut perlu dibuktikan dengan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Kalau memang dianggap berhasil, harusnya ada data konkret. Misalnya berapa peningkatan penjualan per tahun, bagaimana dampaknya terhadap perajin rencong batu, apakah benar-benar berkembang secara ekonomi atau tidak,” katanya.
Sebagai perbandingan, ia mencontohkan kawasan wisata Danau Lut Tawar di Aceh Tengah yang dinilai tetap memiliki daya tarik kuat dan konsisten dikunjungi wisatawan tanpa bergantung pada ajang penghargaan.
“Danau Lut Tawar di Aceh Tengah setahu saya tidak pernah ikut API Award, tapi wisatawannya datang terus hampir setiap hari. Itu menunjukkan kualitas destinasi, tata kelola, dan sustainability yang berjalan,” jelasnya.
Tonicko menilai orientasi pembangunan sektor pariwisata daerah seharusnya lebih diarahkan pada keberlanjutan dan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat dibanding sekadar mengejar pengakuan seremonial.
“Kalau wisatawan terus datang, UMKM hidup, ekonomi masyarakat bergerak, itu baru indikator keberhasilan pariwisata yang sebenarnya,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....