OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga Ditengah Ketidakpastian Globa

  • 18 Mei 2026 10:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga meskipun perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi internasional. Penilaian tersebut disampaikan dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 30 April 2026.

Ketua Dewan Komisioner OJK menyebut, kondisi global masih menghadapi tantangan serius akibat ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Meski telah terjadi kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada 8 April 2026, penutupan Selat Hormuz masih berlangsung akibat blokade yang dipertahankan oleh pihak terkait.

Situasi tersebut menyebabkan distribusi energi global terganggu dan harga minyak dunia tetap berfluktuasi pada level tinggi. Kondisi ini turut memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi global.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook April 2026 bertajuk Global Economy in the Shadow of War memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen pada 2026. IMF juga memperingatkan meningkatnya risiko stagflasi akibat fragmentasi geopolitik, tekanan utang, serta gangguan rantai pasok global.

Di Amerika Serikat, perekonomian menunjukkan tanda pelemahan pada kuartal pertama 2026. Inflasi kembali meningkat dipicu kenaikan harga barang dan energi, sementara sentimen konsumen mengalami penurunan meski kondisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat.

Di tengah situasi tersebut, bank sentral AS, The Fed, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) akhir April 2026. Sementara itu, ekonomi Tiongkok masih tumbuh sesuai target sebesar 5 persen pada kuartal pertama 2026, didorong oleh sektor ekspor dan manufaktur.

Namun, OJK mencermati adanya perlambatan momentum pertumbuhan, terutama karena melemahnya pertumbuhan ekspor pada Maret dan belum kuatnya permintaan domestik. Di tengah tantangan global tersebut, ekonomi Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan.

Pertumbuhan ekonomi nasional tercatat 5,61 persen, ditopang oleh konsumsi rumah tangga serta peningkatan belanja pemerintah. Sejumlah indikator domestik juga menunjukkan kondisi yang relatif stabil.

Indeks Keyakinan Konsumen masih berada di zona optimistis meski mengalami moderasi. Penjualan ritel tumbuh 2,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), meskipun penjualan kendaraan bermotor masih mengalami kontraksi.

Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi nasional juga dinilai tetap solid. Cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar USD148,2 miliar, sementara neraca perdagangan masih mencatat surplus sebesar USD1,2 miliar.

Oleh karena itu, OJK menegaskan akan terus mencermati perkembangan risiko global dan domestik guna memastikan stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga. Serta juga mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....