Ibadah Bulan Budaya Alor Pantar GMIT Agape Kupang

  • 12 Mei 2026 13:42 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang – Untuk mempertegas identitas budaya sekaligus memperdalam nilai-nilai iman Kristen di tengah arus modernisasi, Jemaat GMIT Agape Kupang Klasis Kota Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merayakan Bulan Budaya melalui etnis Alor Pantar di hadiri Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, Bendahara Sinode GMIT, Pnt. Yefta Sanam dan Ketua Klasis Pdt. Delfiana K. Poyck-Snae.

Ibadah dibuka dengan prosesi budaya yang khidmat, di mana tarian tradisional Alor menjadi pengantar pelayan firman menuju mimbar. Para penari tampil dengan busana adat dominasi warna merah, hitam, dan putih, lengkap dengan tenunan tradisional dan atribut khas seperti parang bagi pria serta hiasan manik-manik bagi wanita.

Dalam khotbahnya, Pdt. Mercy Paula Kapioru-Pattikawa mengupas makna Mazmur 1:1-6. Ia menekankan bahwa iman harus berakar kuat agar tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif, termasuk perilaku “pencemooh” di media sosial. “Perlu memiliki hati yang takut akan Allah, agar tidak memakai agama sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan politik. Karena itu pentingnya menjaga integritas diri agar tidak mudah goyah oleh ambisi instan seperti popularitas atau kekuasaan yang menyesatkan,” Kata Pdt. Mercy, Minggu 10/5/2026.

Sementara itu Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, dalam suara gembalanya turut mengapresiasi Jemaat Agape yang mampu menghidupkan kekayaan budaya lokal dalam ruang gerejawi. Ia mengingatkan bahwa nilai budaya seperti gotong royong dan kesabaran—seperti proses menenun—adalah landasan spiritual yang nyata. “Keselamatan dalam Kristus dapat dialami melalui bingkai tradisi masing-masing tanpa harus menjadi orang asing bagi budayanya sendiri. Jemaat diajak untuk benar-benar menghidupi nilai budaya dalam keseharian, bukan sekadar menjadikannya konten foto atau seremonial yang rapuh di tengah arus modernisasi,” ujarnya.

Selain perayaan budaya, momen ini juga menandai selesainya tugas Panitia Sidang Sinode Istimewa III. Mewakili Majelis Sinode GMIT, Pdt. Lay secara resmi membubarkan panitia dan menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja maksimal sehingga persidangan berjalan lancar hingga menghasilkan sejumlah keputusan penting, khususnya 57 Pokok Ajaran Gereja yang akan menjadi fondasi pengajaran di GMIT.

Selain itu, ia menyampaikan terima kasih kepada jemaat-jemaat yang telah menjadi tuan dan nyonya rumah serta menyediakan tempat pelaksanaan sidang komisi dengan pelayanan yang sangat baik bagi para peserta. Ia berharap keberhasilan penyelenggaraan ini dapat menjadi pelajaran berharga agar persidangan-persidangan berikutnya dapat berjalan lebih baik lagi.(humas/anna).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....