Pelaku Usaha Cirebon Khawatir Kenaikan LPG dan BBM
- 24 Apr 2026 19:00 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon – Kenaikan harga LPG dan BBM non-subsidi mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha di Kota Cirebon. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi dan harga jual produk ke masyarakat.
Ketua HIPMI Kota Cirebon, Hisyam Sulaeman, menilai kenaikan LPG memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan BBM. Hal ini karena LPG digunakan langsung dalam proses produksi dan kebutuhan dapur usaha.
“Kalau LPG itu memang menurut saya dari semua industri dampaknya lebih masif daripada BBM, karena LPG ini kan terkait dapur dan kebutuhan utama, baik di pabrik maupun di luar pabrik,” ujarnya dalam program Halo RRI edisi Senin, 20 April 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan harga LPG 12 kilogram terjadi hampir setiap tahun dan kini mencapai titik yang cukup tinggi. Kondisi tersebut secara langsung memengaruhi harga pokok produksi atau HPP suatu produk.
“LPG 12 kilogram ini naiknya hampir setiap tahun dan sekarang sudah paling melambung, sehingga pasti akan mempengaruhi HPP suatu produk,” kata Hisyam.
Selain kenaikan energi, pelaku usaha juga menghadapi tambahan beban biaya dari sektor penjualan daring. Menurut Hisyam, biaya pada platform e-commerce sebelumnya sudah menyebabkan kenaikan harga produk sebesar lima hingga tujuh persen.
“Melalui e-commerce itu kita sudah mengalami kenaikan sekitar lima sampai tujuh persen, dan sekarang ditambah kenaikan LPG dan BBM, jadi kemungkinan kenaikannya bisa lebih dari itu,” ucapnya.
Hisyam berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui kemudahan regulasi dan pengurangan beban impor bahan baku. Ia menilai kemudahan akses bahan baku dapat membantu pelaku usaha bertahan di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
“Kalau bahan baku impor dipermudah dan pajaknya tidak terlalu tinggi, pengusaha bisa lebih bernapas panjang dan mencari solusi untuk bertahan dalam kondisi sekarang,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....