Pekerja Asal Indramayu Terlantar di Papua, Minta Bantuan Pemerintah
- 07 Apr 2026 16:58 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Indramayu - Nasib memilukan menimpa delapan pekerja asal Kabupaten Indramayu yang terlantar di wilayah Papua. Kondisi mereka terungkap melalui video yang beredar luas di masyarakat.
Para pekerja yang berprofesi sebagai kuli bangunan itu tersebar di empat lokasi berbeda di Provinsi Papua. Mereka mengalami kesulitan ekonomi dan tidak memiliki biaya untuk kembali ke kampung halaman.
Kondisi mereka dilaporkan semakin memprihatinkan karena persediaan makanan yang semakin menipis. Mereka juga terancam kelaparan jika tidak segera mendapatkan bantuan.
Ketua Gerakan Rakyat Indramayu (GRI), Muhamad Solihin, mengaku prihatin atas kondisi para pekerja tersebut. Ia menyebut para pekerja sebelumnya dijanjikan upah besar dengan sistem lembur.
Namun kenyataannya, para pekerja tidak menerima upah secara layak. Pembayaran dilakukan secara dicicil dan tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
“Nyatanya, boro-boro lembur, kerja harian saja dibayar tidak beres dengan cara dicicil,” ujarnya. Ia menegaskan pihaknya akan memperjuangkan agar para pekerja bisa segera dipulangkan.
Menurut Solihin, para pekerja berasal dari Kecamatan Cikedung, Terisi, dan Kandanghaur. Saat ini mereka dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Ia berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret. Tanggung jawab diharapkan tidak diabaikan oleh pihak yang terlibat.
Dalam video yang beredar, salah satu pekerja, Catu Wijaya, menyampaikan permohonan bantuan. Ia meminta perhatian dari Bupati Indramayu dan pemerintah provinsi.
“Kami terlantar di Papua. Mau pulang tidak punya ongkos,” ucapnya dalam video tersebut. Ia juga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak memiliki uang.
Catu menjelaskan dirinya bersama tujuh rekannya berada di kawasan Sermayam, Merauke, Papua Selatan. Mereka awalnya bekerja dalam proyek pembangunan barak TNI di Batalyon Infanteri Yonif TP 818/YUBOI.
Namun pekerjaan tidak berjalan sesuai rencana dan mereka tidak memiliki biaya untuk pulang. Kondisi ini membuat para pekerja semakin terjebak tanpa kepastian.
Para pekerja berharap pemerintah daerah segera melakukan koordinasi lintas wilayah. Mereka meminta fasilitasi kepulangan melalui kerja sama dengan pihak terkait di Papua.
“Kami ingin segera pulang. Tidak punya ongkos. Tolong kami,” kata Catu. Permintaan tersebut disampaikan melalui video kepada kerabat di Indramayu.
Dari total 18 pekerja yang berangkat, delapan orang masih tertahan di Papua. Sementara sebagian lainnya telah pulang dengan bantuan keluarga.
Para pekerja mengaku kondisi mereka semakin sulit karena kehabisan uang. Mereka terpaksa bertahan dengan makanan seadanya.
Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan lemahnya perlindungan pekerja. Pengawasan terhadap perekrutan tenaga kerja dinilai perlu diperketat.
“Ke depan dinas terkait harus hadir dengan kondisi seperti ini,” ujar Solihin pada Selasa, 7 April 2026. Ia juga meminta semua pihak lebih peduli terhadap nasib para pekerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....