DKUKMPP Kota Cirebon Pantau Kenaikan Harga Sembako jelang Lebaran
- 06 Mar 2026 15:21 WIB
- Cirebon
RRI.O.ID, Cirebon - Pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) terus memantau pergerakan harga kebutuhan pokok di pasar tradisional. Pemantauan dilakukan untuk memastikan kenaikan harga menjelang Idul Fitri masih dalam batas wajar.
Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, DR. H. Iing Daiman, S.IP., M.Si mengatakan secara umum tidak ada batasan pasti terkait persentase kenaikan harga yang dapat ditoleransi. Namun pemerintah tetap melakukan pengawasan agar lonjakan harga tidak terjadi secara ekstrem.
Menurutnya, kenaikan harga dalam kisaran tertentu masih dianggap wajar karena dipengaruhi berbagai faktor pasar. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari besar keagamaan.
“Secara eksak memang tidak ada batasan khusus, tetapi jika kenaikannya sekitar Rp5.000 sampai Rp10.000 kami masih melihatnya sebagai kenaikan yang wajar,” ujar Iing Daiman kepada RRI Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menegaskan pemerintah akan lebih waspada apabila terjadi lonjakan harga yang cukup tinggi. Jika kenaikan mencapai lebih dari Rp20.000 hingga Rp25.000 dari harga acuan, maka kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius.
“Kalau kenaikannya sudah ekstrem, misalnya di atas Rp20.000 sampai Rp25.000, tentu ini perlu menjadi perhatian dan harus kami evaluasi penyebabnya,” katanya.
Iing menjelaskan, salah satu penyebab kenaikan harga adalah keterbatasan pasokan dari daerah pemasok. Kondisi tersebut diketahui saat pemerintah melakukan inspeksi langsung ke pasar bersama Wali Kota Cirebon dan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Menurutnya, pasokan dari sejumlah daerah belum mampu sepenuhnya memenuhi permintaan pasar yang meningkat selama Ramadan. Akibatnya, harga beberapa komoditas mengalami penyesuaian di tingkat pedagang.
Selain itu, peningkatan kebutuhan bahan pangan juga dipengaruhi oleh sejumlah program pemerintah yang turut meningkatkan permintaan. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar.
“Permintaan juga meningkat karena adanya program Makan Bergizi Gratis yang membutuhkan bahan pangan cukup banyak, sehingga turut mempengaruhi ketersediaan di pasar,” ucap Iing Daiman.
Faktor cuaca juga turut mempengaruhi ketersediaan pasokan pangan di sejumlah daerah. Curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sebagian petani mengalami kendala produksi hingga gagal panen.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....