Mesin BRC Mandek, Wali Kota “Semprot” Kadis LH

  • 11 Feb 2026 10:02 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Di tengah krisis sampah yang kian mendesak, sejumlah mesin pengolah di Banjarmasin Recycle Center (BRC), Komplek Pergudangan 88 Bumi Basirih, justru terlihat tak beroperasi. Fasilitas yang digadang-gadang menjadi ujung tombak pengelolaan sampah kota itu dinilai belum memberi dampak signifikan.

Kondisi tersebut memantik reaksi keras Wali Kota Banjarmasin, H. M. Yamin HR. Di hadapan jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKPAD), Yamin menegaskan waktu tidak berpihak pada kota yang setiap hari memproduksi ratusan ton sampah.

“Jangan dibiarkan alat ini mangkrak. Percuma kita punya tempat besar kalau tidak maksimal. Kita berpacu dengan waktu, sementara sampah terus bertambah,” kata Yamin, tegas. 

“Waktu tidak berpihak pada kota. Setiap hari memproduksi ratusan ton sampah,m" katanya. 

Ia menyoroti lemahnya optimalisasi sarana di BRC yang seharusnya menjadi pusat daur ulang terpadu, termasuk pengolahan plastik menjadi Refuse Derived Fuel (RDF). Namun, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya mesin rusak, unit baru yang belum difungsikan, serta keterbatasan sumber daya manusia.

Akibatnya, BRC baru mampu mengolah sekitar lima truk sampah per hari, angka yang dinilai jauh dari kapasitas ideal. Padahal dengan keberadaan BRC, Ia menargetkan minimal 10 truk sampah per hari harus bisa terolah.

“Minimal 10 truk per hari harus terolah. Kalau cuma satu atau dua, kita rugi biaya, rugi waktu,” ujarnya, menyinggung potensi besar yang belum tergarap maksimal. 

“Saat ini kalau kita lihat masih sangat jauh dari kata ideal," ucapnya.

Ia juga mendorong harus kolaborasi lintas sektor, mulai dari penguatan teknis, penganggaran tepat sasaran, hingga pelibatan pihak eksternal yang kompeten. Ia menilai peluang besar masih terbuka, terutama dalam pengolahan sampah organik melalui maggot hingga 50 persen, optimalisasi kompos sebagai pupuk, serta perluasan kerja sama RDF dan teknologi lanjutan seperti pirolisis plastik.

“Kalau sudah 50 persen terolah, itu baru layak diacungi jempol. Ini kerja keras, bukan kerja santai,” katanya. 

“Peluang besar masih terbuka, terutama pengolahan sampah organik melalui maggot hingga 50 persen, optimalisasi kompos sebagai pupuk, serta perluasan kerja sama RDF," katanya.

Tak hanya soal teknis, Yamin juga menyoroti lemahnya koordinasi dan belum sinkronnya administrasi yang berdampak pada keterlambatan pelaporan ke pemerintah pusat. Ia menegaskan, peluang kerja sama dengan pihak ketiga, sekolah kejuruan, hingga skema perjanjian kerja sama (PKS) harus segera diputuskan.

“Kalau mau, kita tanda tangan. Jangan dibiarkan diam, karena masalah sampah ini tidak akan selesai kalau kita ragu-ragu,” ujarnya lagi. 

“Kita minta langkah konkret dan terukur agar BRC benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar bangunan megah tanpa fungsi," katanya.

Sebelumnya, di awal-awal BRC beroperasi, Kepala DLH Kota Banjarmasin, Alive Yousfah Love menargetkan, fasilitas ini ditargetkan mampu mengolah hingga 10 ton sampah per hari. Alive menjelaskan bahwa sampah hasil dari penyisiran dua unit mobil konvektor berkapasitas 6–7 ton akan dibawa ke tempat tersebut, ditambah sampah-sampah yang diangkut menggunakan pickup.

“Di sini sampah langsung dipilah. Sampah plastik masuk ke mesin RDF (Refused Derived Fuel), residu dijadikan pupuk, dan sisanya diolah menjadi kompos,” katanya, di awal operasional menargetkan. 

“Itu kumpulan dari sampah hasil dari penyisiran mobil konvektor dan ditambah sampah-sampah yang diangkut menggunakan pickup," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....