Iklim Kota Cirebon Pengaruhi Pengembangan Sapi Perah
- 09 Feb 2026 21:02 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Rencana impor sapi perah dilakukan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat, sebagai upaya pemenuhan kebutuhan protein hewani, khususnya dari komoditas susu. Namun demikian, kondisi peternakan di Kota Cirebon dinilai belum mendukung pengembangan sapi perah secara optimal.
Ketua Tim Kerja Peternakan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKPP) Kota Cirebon, Adi Wihardi, SST, mengatakan populasi ternak di Kota Cirebon masih didominasi domba dan kambing. Sementara populasi sapi di wilayah perkotaan tersebut jumlahnya terbatas dan bukan sapi perah.
Menurut Adi, faktor iklim menjadi kendala utama pengembangan sapi perah di Kota Cirebon. “Sapi perah sendiri secara iklim dan juga tanah tidak mendukung karena, kalo sapi perah harus dalam posisi dataran tinggi atau kelembapan dan suhunya dingin” ujar Adi Wihardi, SST pada RRI Senin, 9 Februari 2026.
Ia menjelaskan, upaya pengembangan sapi perah pernah dilakukan di wilayah Kelurahan Kalijaga. "Sempat ada 5 ekor tapi produksi awalnya paling tinggi itu 11 sampai 12 liter perhari, tapi lama kelamaan paling 5 sampai 6 liter jadi untuk ke sapi perah tidak mendukung," katanya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat mempengaruhi produktivitas sapi perah. Oleh karena itu, pengembangan sapi perah di Kota Cirebon dinilai kurang efektif untuk jangka panjang.
Adi menegaskan bahwa populasi sapi yang ada saat ini lebih difokuskan untuk kebutuhan potong. Hal tersebut disesuaikan dengan karakter wilayah dan kemampuan peternak lokal.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai perlu adanya kebijakan yang realistis dalam mendukung MBG di daerah perkotaan. Penyesuaian komoditas peternakan menjadi kunci agar program dapat berjalan optimal.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....