Tak Sekadar Menahan, Ini Level Tertinggi Puasa
- 04 Mar 2026 14:53 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, ia adalah momentum pembentukan kualitas diri. Dalam program Syiar Ramadan, Rabu, 4 Maret 2026 di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Wakil Direktur Voice of Istiqlal, H.M. Faried Saenong, mengajak umat Islam melihat puasa dari dimensi yang lebih dalam.
Menurutnya, puasa dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Secara fikih, ukuran sah atau tidaknya puasa terletak pada tiga hal mendasar: tidak makan, tidak minum, dan tidak melakukan hubungan suami istri. Selama tiga hal ini terjaga, puasa dinilai sah secara hukum.
Namun, ia mengingatkan bahwa sah secara fikih belum tentu menghadirkan kualitas spiritual yang utuh. Berbohong atau melakukan dosa saat berpuasa memang tidak membatalkan puasa secara hukum, tetapi dapat menggerus pahala dan keberkahan yang seharusnya diraih.
Di sinilah pembahasan “Puasa Estetik VS Puasa Otentik” menemukan relevansinya.
Faried menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an, terdapat dua istilah yang sama-sama dimaknai sebagai puasa, yakni “siam” dan “saum.” Dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 digunakan kata “siam”, yang merujuk pada kewajiban dasar menahan diri dari tiga hal tadi. Sementara dalam Surah Maryam, kata “saum” memiliki makna yang lebih luas, tidak sekadar menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku.
Secara linguistik, “siam” menunjuk pada dimensi lahiriah puasa. Adapun “saum” mencakup upaya meningkatkan kualitas puasa dengan meninggalkan dosa-dosa kecil sekalipun dan menghiasinya dengan amal kebaikan.
Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, Faried menyebut adanya tiga tingkatan puasa. Pertama, puasanya orang awam (siamul awam), yakni sekadar menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Kedua, puasanya orang khusus (saumul khawas), yaitu menjaga diri dari dosa kecil maupun besar. Ketiga, puasanya orang yang lebih khusus lagi (khawasil khawas), yakni selain menjaga diri dari dosa, juga menghiasi puasanya dengan berbagai amal kebajikan.
“Yang diwajibkan kepada kita adalah level ‘siam’-nya. Dan kita patut bersyukur karena itu level paling dasar. Tapi bukan berarti kita berhenti di situ,” ujarnya.
Dalam konteks inilah, istilah “puasa estetik” diperkenalkan. Puasa estetik bukan sekadar tampilan luar, melainkan ekspresi kultural yang memperindah pengalaman Ramadan. Tradisi buka puasa dengan yang manis, sahur bersama, hingga fenomena sahur on the road menjadi bagian dari kreativitas umat dalam memeriahkan bulan suci.
Berbagai negara memiliki ekspresi budaya yang berbeda dalam merayakan Ramadan. Di Mesir, misalnya, dikenal dengan lampu-lampu khas Ramadan yang menghiasi sudut kota. Di Indonesia, kemeriahan itu juga tampak dalam berbagai festival cahaya dan tradisi berbuka bersama di masjid.
Menurut Faried, ekspresi budaya ini penting selama tidak keluar dari nilai-nilai syariat. Justru, kombinasi antara nilai agama dan budaya dapat menghadirkan Ramadan yang membahagiakan, bukan membebani.
Ia menegaskan, Ramadan seharusnya disambut dengan kegembiraan dan semangat spiritual, bukan keluhan karena harus menahan kebiasaan harian. “Ramadan itu menghadirkan vibe spiritualitas yang tinggi, sekaligus kegembiraan kultural yang memperkaya pengalaman kita,” katanya.
Pada akhirnya, puasa otentik bukan hanya tentang menahan diri secara fisik, melainkan tentang transformasi batin. Dari sekadar lapar dan haus, menuju peningkatan kualitas diri yang lebih dekat kepada nilai-nilai ketakwaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....