Rajin Salat Belum Tentu Selamat, Ini Ukurannya
- 02 Mar 2026 14:06 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta – Ibadah salat bukan hanya soal gerakan yang tertib dan bacaan yang fasih. Lebih dari itu, salat memiliki makna dan tujuan yang seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Hal tersebut disampaikan KH. Mas'ud Halimin, Wakil Kepala Bidang Peribadatan dan HBI Masjid Istiqlal, dalam program Syiar Ramadan di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.
Menurutnya, Al-Qur’an memuat peringatan yang menarik untuk direnungkan, yakni tentang orang-orang yang salat namun lalai terhadap substansi salatnya. Ayat tersebut bukan ditujukan kepada mereka yang meninggalkan salat, melainkan kepada yang mengerjakannya tetapi belum menghadirkan makna di dalamnya.
“Secara fikih bisa saja sudah baik, tidak pernah meninggalkan salat, bacaannya bagus. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah salat itu memberi dampak dalam kehidupan?” ujarnya.
KH. Mas’ud menjelaskan, setidaknya ada tiga substansi utama salat. Pertama, mengingat Allah. Kedua dan ketiga, salat seharusnya mampu mencegah perbuatan keji (fahsya) dan mungkar. Artinya, ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi berlanjut pada pembentukan karakter.
Ia mencontohkan, perilaku terhadap lingkungan juga menjadi bagian dari cerminan ibadah. “Makhluk itu bukan hanya manusia. Alam semesta termasuk di dalamnya. Jadi kalau seseorang salat, tapi masih merusak lingkungan atau membuang sampah sembarangan, itu perlu menjadi bahan refleksi,” tuturnya.
Dalam perbincangan bertema “Puasa dan Etika Lingkungan: Menahan Diri Demi Kelestarian Bumi”, ia menekankan bahwa kualitas iman dan takwa menyangkut hubungan dengan Tuhan sekaligus dengan sesama dan alam.
Selain salat, ia juga menyoroti pentingnya menjaga etika dalam bersedekah. Al-Qur’an, kata dia, mengingatkan agar tidak membatalkan sedekah dengan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti hati penerima. “Ucapan yang merendahkan bisa mengurangi nilai kebaikan itu sendiri,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa rezeki yang disedekahkan sebaiknya diperoleh dengan cara yang baik dan tidak merusak. Dengan demikian, ibadah menjadi utuh, tidak hanya bernilai secara spiritual, tetapi juga membawa kebaikan bagi lingkungan dan kehidupan sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....