Simbol Kebersamaan di Masjid Sunda dalam Teriakan “Salimoleh”

  • 24 Feb 2026 13:21 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Bulan Ramadhan semakin terasa meriah dalam kebersamaan dengan suara anak-anak saat menjalankan sholat Tarawih di Masjid. Teriakan “Salimoleh!” yang muncul spontan dan riuh kini dianggap bukan sekadar suara gaduh biasa, tetapi juga sebuah simbol kebersamaan dan budaya lokal dalam menjalankan ibadah.

Tarawih, yang secara bahasa berarti istirahat (bentuk jamak dari 'tarwihatun'), memang memiliki jeda di antara 23 rakaat salatnya. Jeda ini kemudian diisi dengan selawat dan seruan yang dipimpin Bilal Tarawih untuk menambah semarak ibadah.

Asal mula “Salimoleh” adalah pelafalan yang kurang tepat dari 'Sholli wa sallim 'alaihi', yang berarti semoga rahmat dan keselamatan tetap melimpah untuk Nabi Muhammad SAW. Dalam buku “Upacara Adat di Pasundan” (1982) yang ditulis oleh R Akip Prawira Soeganda menjelaskan bahwa Kebiasaan ini telah lama menjadi bagian dari tradisi Ramadan di masjid-masjid desa.

Di dalam buku itu lebih dijelaskan bahwa Dahulu, masyarakat di dusun-dusun Sunda melaksanakan Tarawih dengan jumlah rakaat yang seragam, yaitu 23 rakaat. Salat dilakukan dua rakaat-dua rakaat sebanyak 10 kali, ditambah tiga rakaat witir (kadang dibagi dua sesi).

Usai setiap dua rakaat, seorang petugas masjid akan memimpin doa dan meminta jawaban dari jemaah berupa selawat kepada Nabi Muhammad SAW, 'Sholli wa sallim 'alaihi'. Namun, anak-anak seringkali melafalkan selawat itu dengan cepat sehingga terdengar seperti 'Salimoleh'.

R Akip menjelaskan lebih lanjut dalam bukunya tersebut bahwa Tradisi memberikan jeda antar-salat dalam Tarawih memiliki dasar kuat dalam literatur fikih. Anjuran tersebut meliputi berpindah tempat atau memisahkan dua salat dengan percakapan ringan agar tempat sujud semakin banyak dan menjadi saksi di hari kiamat.

Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juga memperkuat anjuran ini. Diriwayatkan dari Muawiyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar tidak menyambung satu salat dengan salat lain sebelum berbicara atau berpindah tempat. Ulama juga menyebut jeda bisa diisi dengan zikir.

Dari sinilah muncul kebutuhan akan pengatur atau pemandu jeda dalam Tarawih, yang di Nusantara dikenal sebagai Bilal Tarawih. Di Indonesia, bacaan Bilal Tarawih sangat bervariasi, ada yang hanya membaca selawat kepada Nabi, ada pula yang menambahkan doa dan pujian untuk empat Khulafa' Rasyidun: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali RA.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....