Cungkring, Kelezatan Tradisional dari Sudut Kota Bogor

  • 15 Jul 2026 21:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung : Kuliner Kota Hujan tidak melulu soal asinan atau tauge goreng yang legendaris. Di sudut-sudut jalanan kuno Bogor, terdapat satu kuliner sarapan tradisional yang terbilang langka namun memiliki penggemar setia, yaitu cungkring.

Nama makanan yang unik ini memiliki sejarah penamaan yang menarik di kalangan masyarakat. Sebagian sumber menyebutkan nama ini merupakan singkatan dari cukang (tetelan kaki) dan garing, namun versi lain yang tak kalah kuat menyatakan bahwa cungkring berasal dari perpaduan kata cungur (mulut sapi) dan garing karena tekstur potongan dagingnya yang khas.

Seporsi cungkring menyajikan kombinasi tekstur yang kaya dan memanjakan lidah. Bahan utamanya adalah potongan jeroan sapi, terutama bagian kikil, urat, kuping, serta bagian cungur atau bibir sapi yang diolah dengan bumbu kuning khusus hingga empuk. Bagian-bagian sapi ini kemudian dipotong kecil-kecil lalu disajikan di atas pincuk daun pisang bersama potongan lontong. Kehadiran keripik tempe kering yang renyah di atasnya memberikan sensasi kriuk yang kontras dengan kelembutan kikil dan cungur yang kenyal.

Kunci kelezatan utama dari cungkring terletak pada siraman saus kacangnya yang khas. Berbeda dengan bumbu kacang sate yang cenderung manis, saus kacang pada cungkring memiliki tekstur yang lebih kental, gurih, dan memiliki aroma rempah yang kuat.

Perpaduan antara gurihnya saus kacang, kenyalnya potongan cungur bumbu kuning, dan renyahnya tempe kering menciptakan harmoni rasa tradisional yang sangat memikat sejak suapan pertama. Bagi pencinta pedas, tambahan sambal cabai rawit hijau menjadi pelengkap yang menyempurnakan hidangan ini.

Menemukan cungkring di era modern saat ini bisa dibilang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemburu kuliner. Salah satu tempat paling ikonik untuk berburu kuliner ini adalah di kawasan Jalan Suryakencana, pusat kuliner legendaris di Kota Bogor.

Di sana, para pedagang cungkring lawas biasanya masih berjualan secara tradisional menggunakan pikulan kayu. Mereka mulai menjajakan dagangannya sejak pagi buta, dan sering kali sudah ludes terjual hanya dalam waktu beberapa jam saja karena antrean pembeli yang mengular.

Menikmati seporsi cungkring bukan sekadar urusan mengenyangkan perut di pagi hari, melainkan juga merawat warisan budaya. Kuliner ini memuat cerita tentang kreativitas masyarakat Sunda dalam mengolah seluruh bagian bahan makanan menjadi hidangan yang bernilai seni tinggi.

Dengan harga yang sangat ramah di kantong, cungkring tetap bertahan melintasi generasi sebagai salah satu bukti kekayaan gastronomi Kota Bogor yang wajib dijaga kelestariannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....