Harga Sayuran Terutama Jengkol di Garut Melonjak

  • 15 Jul 2026 19:00 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Garut : Hampir tiga pekan memasuki musim kemarau yang berdampak kekeringan saat ini cukup berpengaruh terhadap kenaikan kebutuhan pokok penting masyarakat khususnya di komoditi sayuran. Dari sekian banyak jenis sayuran yang mengalami kenaikan, komoditi jengkol yang kenaikan harganya cukup signifikan. Berdasarkan pantauan disejumlah pasar tradisional di Garut harga jengkol ditingkat eceran sempat menembus hingga 80 ribu rupiah per kilogramnya.

Siti (55) salah seorang pedagang sayuran di Pasar Ciparay Karangpawitan Garut mengatakan,komoditi jengkol ini sempat hilang dari pasaran beberapa pekan karena sulitnya untuk mendapatkan komoditi yang memiliki bau khas tersebut.

"Jika pun ada barangnya harganya cukup tinggi sampai menembus 80 ribu rupiah per kilogramnya sementara yang beli juga tidak ada," katanya, di Garut, Rabu 15 Juli 2026.

Namun saat ini, menurutnya, harga jengkol sudah mulai berangsur turun menjadi 60 ribu rupiah per kilogramnya." Untuk harga 1/5 kilogram dijual 15 rupiah per kilogramnya itu pun peminatnya masih jarang, karena biasanya harga jengkol ini paling tinggi menjual dikisaran 6 sampai 8 ribu rupiah per kilogramnya," katanya.

Ia menyampaikan, selain harga jengkol, harga tomat juga saat ini mengalami kenaikan menjadi 16 rupiah per kilogram nya dari harga normal 6 sampai 10 ribu rupiah per kilogramnya." Selain jengkol harga sayuran yang juga mengalami kenaikan diantaranya tomat yang menembus harga 16 ribu rupiah per kilogramnya, dari harga normal 8 ribu rupiah," ujarnya.

Selain itu juga ada komoditi cabe merah dan cabe rawit juga masih bertahan kenaikannya di kisaran diatas 40 ribu rupiah perkilogramnya. " Kenaikan dipicu karena barangnya sedikit sementara permintaan cukup tinggi," ujarnya.

Sementara itu pedagang sayuran lainnya Dede mengatakan, selain dipicu oleh musim kemarau yang berpotensi terjadinya gagal panen petani karena susah air, kenaikan harga sayuran dan komoditi lainnya dipicu oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Sejak ada MBG semua kebutuhan pokok masyarakat terus mengalami kenaikan, dan susah turun harganya," katanya.

Ia menyampaikan, dengan posisi harga kebutuhan pokok serba naik, diakui kurang menguntungkan bagi pedagang, karena daya beli masyarakat menjadi menurun.

" Ya jelas saja dengan menurunnya daya beli masyarakat akibat harga kebutuhan pokok serba naik sangat berpengaruh terhadap pendapatan atau omset kami," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....