Asal-usul "Kuah Beulangong"

  • 15 Apr 2026 23:28 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID,Meulaboh- Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan daging kambing atau sapi biasa bagi masyarakat Aceh; ia adalah simbol identitas dan sejarah yang panjang. Secara etimologi, nama "Beulangong" merujuk pada belanga atau kuali besar yang digunakan untuk memasak dalam porsi raksasa.

Asal-usul kuliner ini diyakini telah ada sejak masa Kesultanan Aceh, di mana hidangan ini kerap disajikan dalam acara-acara besar kesultanan, kenduri rakyat, hingga perayaan hari besar Islam sebagai wujud syukur dan persatuan.

Salah satu keunikan sejarah yang masih dipertahankan hingga kini adalah tradisi bahwa Kuah Beulangong harus dimasak oleh kaum laki-laki. Konon, pada masa lalu, proses memasak dalam kuali besar memerlukan tenaga ekstra untuk mengaduk daging dan bumbu rempah yang sangat banyak.

Hal ini kemudian berkembang menjadi filosofi gotong royong antar pria di gampong (desa), di mana mereka berkumpul, menyembelih hewan ternak secara bersama-sama, dan menjaga api tungku tetap menyala hingga masakan matang sempurna.

Rahasia kelezatan Kuah Beulangong yang melegenda terletak pada penggunaan rempah-rempah yang sangat kompleks namun tanpa menggunakan santan. Sebagai pengganti lemak dari santan, masyarakat Aceh secara tradisional menggunakan nangka muda atau pisang kepok sebagai bahan pengental alami.

Teknik ini tidak hanya memberikan tekstur yang unik pada kuah, tetapi juga merupakan warisan cara memasak sehat ala leluhur yang menjaga keseimbangan antara lemak daging dengan serat dari buah-buahan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Kuah Beulangong bertransformasi dari sekadar menu pesta istana menjadi hidangan pemersatu masyarakat. Tradisi ini sering ditemui pada perayaan Maulid Nabi atau kenduri panen raya (kenduri blang).

Di sana, aroma rempah yang tajam dari kuali besar menjadi penanda bahwa seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang status sosial, akan duduk bersimpuh bersama untuk menikmati hidangan yang sama dari piring-piring yang diedarkan.

Kini, Kuah Beulangong telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah Indonesia untuk menjaga kelestariannya.

Meski restoran-restoran modern mulai menyajikannya secara harian, nilai historis dari proses memasaknya di atas tungku kayu tetap dianggap sebagai cara terbaik untuk mendapatkan rasa otentik. Menikmati semangkuk Kuah Beulangong berarti juga meresapi sejarah panjang kejayaan Aceh yang masih tersisa dalam setiap suapan rempahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....