Kecanduan Gadget Ganggu Kesehatan Mental dan Kehidupan Sosial

  • 18 Jul 2026 10:20 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Penggunaan gadget yang berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan mental, menurunkan konsentrasi, hingga mengganggu hubungan sosial apabila tidak diimbangi dengan pengendalian diri. Masyarakat diingatkan agar memanfaatkan teknologi secara bijak dan tidak membiarkan gadget menguasai kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Desikaliana, Sp.KJ, dalam Dialog Asokaya RRI Pro 4 Banda Aceh, mengangkat tema "Scroll Sampai Lupa Dunia, Apakah Kita Salah Satu Korbannya?", Sabtu 11 Juli 2026.

Menurut dr. Desi, pada dasarnya gadget merupakan alat yang memudahkan manusia memperoleh informasi dan meningkatkan pengetahuan. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol justru dapat menimbulkan kecanduan. "Sebenarnya gadget adalah alat yang mencerdaskan kita. Tapi kesalahan penggunaan karena durasi yang terlalu lama hingga menunda kebutuhan dasar seperti tidur, makan, bahkan ibadah dapat mengganggu kesehatan dan akhirnya sulit dikendalikan," katanya.

Ia menjelaskan, salah satu indikator kecanduan gadget adalah penggunaan lebih dari tiga jam tanpa jeda hingga mengganggu aktivitas utama. Kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, emosi menjadi lebih mudah tersulut, serta menurunkan produktivitas.

Selain itu, kecanduan gadget juga berdampak pada kesehatan fisik, seperti mata lelah, nyeri leher, gangguan tidur, hingga perubahan pola makan yang berujung obesitas maupun malnutrisi. Penggunaan gadget secara terus-menerus memengaruhi fungsi otak, terutama kemampuan mengendalikan emosi dan fokus.

"Kalau sudah mengganggu waktu tidur, sekolah, pekerjaan, dan hubungan sosial, itu sudah masuk kategori kecanduan berat sehingga perlu dilakukan pembatasan penggunaan gadget bahkan berkonsultasi dengan tenaga profesional bila diperlukan," ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat mulai menerapkan digital diet dengan membatasi penggunaan gadget, memberi jeda setiap satu jam penggunaan, serta memanfaatkan waktu istirahat untuk bergerak, beribadah, maupun berinteraksi langsung dengan keluarga.

"Kita bukan budak gadget. Gadgetlah yang harus menjadi alat untuk membantu kita menjadi lebih cerdas, bukan sebaliknya," tutup dr. Desi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....