Kasus Kanker Global Diprediksi Hampir Dua Kali Lipat pada 2050, WHO Beri Peringatan
- 16 Jul 2026 13:32 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa jumlah kasus kanker dapat meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 2050 mendatang. WHO menilai negara-negara di seluruh dunia perlu mengambil langkah mendesak untuk memperkuat pencegahan hingga diagnosis dini.
Data tersebut merujuk pada Laporan Status Global tentang Kanker 2026 yang disusun bersama Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), sebuah badan khusus di bawah WHO. Laporan tersebut menguraikan bahwa kanker telah menyebabkan lebih dari 26 ribu kematian setiap harinya.
IARC memperkirakan sebanyak 20,6 juta kasus baru dilaporkan dengan nyaris 10 juta kematian per tahun. Kondisi ini menempatkan kanker sebagai penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskular.
Laporan tersebut turut memperingatkan bahwa meskipun telah ada kemajuan dalam pengendalian tembakau, vaksinasi, dan pencegahan kanker, jutaan orang masih menghadapi ketimpangan besar dalam mengakses perawatan yang menyelamatkan jiwa. Kendati demikian, ketimpangan yang terpotret dalam laporan ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa dihindari, melainkan dapat ditangani melalui tindakan yang tepat dan terpadu.
Selain itu, tingkat kelangsungan hidup pasien menunjukkan perbedaan signifikan antara negara kaya dan miskin. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, sebanyak 87 persen wanita yang didiagnosis menderita kanker payudara mampu bertahan hidup setidaknya selama lima tahun.
Sebaliknya, angka tersebut turun drastis menjadi sekitar 42 persen di negara-negara berpenghasilan rendah. WHO juga menyoroti beratnya beban sosial dan ekonomi akibat penyakit ini.
Hasil survei global pertama WHO terhadap masyarakat yang terdampak kanker menemukan bahwa setidaknya 45 persen pasien mengalami kesulitan keuangan, dan lebih dari separuhnya melaporkan tantangan kesehatan mental. Hampir seluruh pendamping atau pengasuh pasien (caregiver) juga menghadapi tekanan signifikan, termasuk beban perawatan tanpa bayaran hingga isolasi sosial.
Lebih lanjut, WHO memperkirakan hampir empat dari 10 kasus kanker berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah. Faktor-faktor tersebut meliputi penggunaan tembakau, konsumsi alkohol, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, serta infeksi virus seperti Human Papillomavirus (HPV) dan Hepatitis B maupun C.
Oleh karena itu, WHO menggarisbawahi pentingnya upaya pencegahan yang sejalan dengan penanganan risiko-risiko baru yang muncul. WHO menegaskan bahwa pengendalian kanker harus melampaui sekadar pengobatan medis, yaitu dengan menempatkan pasien dan keluarga mereka sebagai pusat dari sistem pelayanan kesehatan.
WHO mendesak para pembuat kebijakan untuk bekerja lebih erat dengan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung dengan kanker guna merancang kebijakan kesehatan yang lebih adil dan efektif.
Sumber: un.org
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....