Kenapa Banyak Cowok Lebih Suka Memendam Perasaan Sendiri?

  • 15 Jul 2026 14:27 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID,Cirebon:_Pernah nggak kamu punya teman, pacar, atau saudara cowok yang kelihatannya selalu "baik-baik aja", tapi ternyata di dalam hatinya sedang berantakan? Dia jarang cerita, jarang mengeluh, dan kalau ditanya "kamu kenapa?" jawabannya cuma "nggak apa-apa, santai aja."

Fenomena ini sebenarnya cukup umum. Banyak cowok memang punya kecenderungan memendam perasaan sendiri, bukan karena mereka nggak punya perasaan, tapi karena banyak faktor yang membentuk kebiasaan itu. Yuk kita bahas beberapa fakta menariknya. Dari kecil, banyak anak laki-laki tumbuh dengan kalimat seperti "cowok jangan cengeng" atau "laki-laki harus tahan banting". Pesan ini terdengar simpel, tapi efeknya panjang.

Dilansir dari studi Courtenay (2000) di jurnal Social Science & Medicine, pola asuh yang menekankan maskulinitas tradisional sejak dini justru berkontribusi pada kebiasaan menyembunyikan emosi hingga dewasa, karena menunjukkan perasaan dianggap bertentangan dengan citra "laki-laki kuat". Padahal, menunjukkan emosi sebenarnya hal yang manusiawi. Nggak semua orang dibekali kemampuan buat mengenali dan menyampaikan perasaannya dengan baik.

Dilansir dari penelitian Levant dkk. (2009) yang dipublikasikan di Journal of Social and Clinical Psychology, banyak cowok mengalami kesulitan mengenali dan mengungkapkan emosinya sendiri, sebuah kondisi yang oleh para peneliti disebut sebagai pola "normative male alexithymia". Jadi, banyak cowok sebenarnya bukan nggak mau cerita, tapi memang belum terbiasa mencari kata yang pas untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan.

Ada juga yang memendam karena berpikir, "ah, ini masalahku sendiri, nggak perlu bikin orang lain ikut pusing." Niatnya baik, tapi kalau terus-terusan dilakukan, bebannya justru menumpuk sendirian. Sebagian cowok punya pola pikir problem-solver alias langsung mencari solusi.

Sementara itu dilansir dari kajian berbasis teori Gender Role Strain Paradigm milik Pleck (1995), pola ini sering muncul karena norma maskulin mendorong laki-laki untuk memakai strategi "penekanan ekspresi" ketimbang mengolah dan membicarakan perasaannya. Ketika ada masalah, fokusnya ke "bagaimana cara menyelesaikannya", bukan ke "bagaimana perasaanku soal ini". Akibatnya, emosi sering terlewat begitu saja tanpa diproses.

Ini yang penting, diam atau kelihatan tenang, bukan berarti semuanya benar-benar oke. Kadang, justru saat seseorang jadi lebih pendiam dari biasanya, itu tanda kalau dia sedang memikirkan sesuatu yang berat. Memendam perasaan terus-menerus bisa membuat beban emosional menumpuk.

Sedangkan mengutip dari laman FHE Health (2025), kebiasaan menekan emosi dalam jangka panjang bisa berkontribusi pada gangguan tidur, kelelahan fisik, hingga memicu perilaku pelampiasan seperti kecanduan atau kebiasaan kompulsif lainnya. Selain itu, dilansir dari Mahalik dkk. (2003) dalam Psychology of Men & Masculinity, budaya "harus kuat" pada laki-laki turut dikaitkan dengan tingginya angka depresi dan rendahnya keinginan mencari bantuan profesional. Kalau dibiarkan lama, ini bisa memicu stres, kecemasan, atau rasa lelah secara emosional, meski dari luar terlihat biasa saja.

Kalau kamu mengenal seseorang seperti ini, hal sederhana yang bisa dilakukan adalah memberi ruang tanpa memaksa. Kadang bukan soal langsung menyuruh "cerita dong", tapi lebih ke menunjukkan bahwa kamu ada dan siap mendengarkan kapan pun dia siap.

Buat cowok yang merasa relate dengan artikel ini, nggak ada salahnya sesekali mencoba bicara, baik ke teman dekat, keluarga, atau bahkan menulis apa yang dirasakan. Dilansir dari studi yang dipublikasikan di ScienceDirect (2025), mengurangi stigma seputar kerentanan emosional pada laki-laki dapat meningkatkan kemungkinan mereka mau mengakses layanan bantuan psikologis saat membutuhkannya.

Memendam semuanya sendiri memang terasa aman sesaat, tapi berbagi cerita justru sering membuat beban terasa lebih ringan. Pada akhirnya, kekuatan sejati bukan soal siapa yang paling jarang menunjukkan perasaan, tapi soal siapa yang berani jujur pada dirinya sendiri.

(Sumber :Khoerul Arif STID_Al Biruni)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....