Mengenal 'Cortisol Face', Efek Nyata Stres Kronis pada Kulit

  • 10 Jul 2026 16:06 WIB
  •  Manado
Poin Utama
  • Stres memicu lonjakan hormon kortisol yang secara langsung meningkatkan produksi minyak, melemahkan skin barrier, dan memicu jerawat di area rahang serta dagu.
  • Selain masalah tekstur, stres kronis menyebabkan retensi cairan (wajah sembap/puffiness) serta ketegangan otot rahang yang dapat mengubah tampilan bentuk wajah temporer.
  • Pakar menyarankan untuk tidak panik dengan memakai terlalu banyak produk agresif, melainkan beralih ke perawatan sederhana yang menenangkan skin barrier dan sistem saraf.

RRI.co.id, Manado - Pernahkah Anda mendapati jerawat tiba-tiba muncul di area rahang tepat setelah melewati pekan yang padat dan melelahkan? Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Para pakar estetika menegaskan bahwa stres emosional dan fisik memiliki jalur langsung yang dapat merusak kesehatan kulit wajah.

Dilansir dari Harper's Bazaar, menurut Elizabeth Grace Hand, seorang celebrity esthetician mendalam asal New York, sistem saraf manusia memiliki keterikatan kuat dengan kondisi eksternal kulit. Ketika seseorang mengalami tekanan, tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebihan.

"Saat kita stres, kortisol meningkatkan produksi minyak yang berkontribusi pada penyumbatan pori-pori dan timbulnya jerawat," ujar Hand dalam keterangannya, dikutip Jumat, 10 Juli 2026.

Selain memicu jerawat di area sensitif seperti dagu dan rahang, lonjakan kortisol juga melemahkan lapisan pelindung kulit (skin barrier). Dampaknya, kulit menjadi lebih sensitif, mudah memerah, mengalami dehidrasi, serta memicu kekambuhan penyakit kulit bawaan seperti eksim, psoriasis, atau rosasea.

Dampak stres ternyata tidak berhenti pada masalah tekstur dan warna kulit yang kusam. Secara visual, stres dapat mengubah tampilan bentuk wajah seseorang akibat retensi cairan dan ketegangan otot. Kondisi yang belakangan populer di media sosial dengan istilah "cortisol face" ini jamak ditandai dengan wajah yang tampak lebih sembap (puffiness), terutama di sekitar mata.

Estethician Sofie Pavitt menambahkan, kebiasaan mengunyah rahang atau menggertakkan gigi (teeth grinding) tanpa sadar saat cemas berisiko memperbesar otot masseter. Hal ini bisa memberi ilusi bentuk rahang yang lebih tegas atau kotak, disertai kerutan statis di area dahi akibat ekspresi tegang yang berulang.

Ketika kulit mulai menunjukkan tanda-tanda "stres", kesalahan terbesar yang sering dilakukan masyarakat adalah panik dan langsung mengaplikasikan berbagai produk berbahan aktif keras secara bersamaan.

Untuk mengatasinya, Pavitt menyarankan beberapa langkah pertolongan pertama yang aman dan sesuai dengan kaidah perawatan kulit:

  • Hindari Memencet Jerawat: Tindakan ini justru menghambat penyembuhan alami kulit dan memperbesar risiko komparatif terjadinya jaringan parut atau bekas luka permanen.
  • Gunakan Skincare Minimalis: Cukup gunakan pembersih wajah yang lembut, diikuti dengan spot treatment (obat totol) yang mengandung mandelic acid atau benzoyl peroxide langsung pada area yang berjerawat.
  • Kompres Dingin: Gunakan es batu yang dilapisi kain bersih atau alat pemijat dingin (cooling tools) untuk meredakan kemerahan dan pembengkakan.

Di sisi lain, pemilihan kandungan produk juga memegang peranan penting. Komponen restoratif seperti manuka honey dan colloidal oatmeal sangat direkomendasikan untuk menenangkan peradangan serta menyeimbangkan kembali mikrobioma kulit.

Pada akhirnya, para pakar sepakat bahwa penyembuhan kulit yang stres harus dimulai dari penenangan tubuh secara menyeluruh. Mengintegrasikan ritual sederhana seperti mengonsumsi teh herbal sebelum tidur atau melakukan pijat limfatik mandiri menggunakan tangan di area wajah dapat membantu menurunkan respons stres pada sistem saraf, yang pada gilirannya akan mengembalikan kilau alami kulit Anda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....