Pemulihan Stroke Harus Menyeluruh, Bukan Sekadar Mampu Berjalan

  • 26 Jun 2026 15:17 WIB
  •  Manado

RRI.CO.ID, Manado – Pemulihan pasca-stroke tidak berhenti ketika pasien dinyatakan pulang dari rumah sakit atau kondisi fisiknya mulai membaik. Masa pemulihan merupakan proses jangka panjang yang memerlukan pengelolaan menyeluruh, termasuk pengendalian penyakit penyerta seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan gangguan jantung guna mencegah serangan berulang.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan kemkes.go.id keberhasilan pemulihan stroke memerlukan pendekatan komprehensif yang mencakup fisioterapi, terapi wicara, hingga dukungan kesehatan mental untuk membantu penyintas menghadapi perubahan emosional setelah serangan stroke.

Meski banyak pasien merasa aman setelah kembali ke rumah, risiko terjadinya kejadian kardiovaskular serius masih tergolong tinggi. Data menunjukkan bahwa dalam satu tahun setelah mengalami stroke, hampir satu dari dua pasien berisiko mengalami serangan jantung, stroke berulang, atau bahkan kematian. Risiko tertinggi terjadi pada tiga bulan pertama pasca-stroke, saat pasien dan keluarga sering kali mulai mengurangi kewaspadaan.

Untuk mengidentifikasi pasien yang berisiko tinggi mengalami kejadian kardioserebrovaskular di kemudian hari, para peneliti memperkenalkan penggunaan Indeks Trigliserida-Glukosa (ITG). Indeks ini dihitung berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah puasa dan trigliserida puasa yang saat ini sudah tersedia di berbagai fasilitas kesehatan.

ITG berfungsi mendeteksi resistensi insulin, yaitu kondisi ketika tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal sehingga kadar gula darah menjadi sulit dikendalikan. Kondisi tersebut dapat merusak pembuluh darah secara perlahan dan meningkatkan risiko terjadinya penyumbatan.

Semakin tinggi nilai ITG, semakin besar pula risiko kardiovaskular yang dimiliki pasien. Pasien stroke dengan nilai ITG tinggi, yakni lebih dari atau sama dengan 9,23, diketahui memiliki risiko 1,7 kali lebih besar mengalami kejadian kardiovaskular serius dalam waktu satu tahun. Risiko tersebut meningkat apabila pasien juga memiliki riwayat penyakit jantung, stroke berat, atau ketergantungan dalam aktivitas sehari-hari.

Ketika kadar gula dan lemak darah tidak terkontrol, berbagai perubahan berbahaya dapat terjadi pada sistem pembuluh darah. Pembuluh darah menjadi lebih kaku dan rentan rusak, darah lebih mudah membentuk gumpalan, serta peradangan dalam tubuh meningkat. Selain itu, plak yang menempel pada dinding pembuluh darah menjadi tidak stabil sehingga lebih mudah pecah dan menyumbat aliran darah. Kondisi ini dapat memicu Major Adverse Cardiovascular Events (MACE), seperti serangan jantung, stroke berulang, hingga kematian.

Karena itu, pemulihan pasca-stroke tidak hanya berfokus pada latihan fisik. Pasien juga dianjurkan untuk rutin memeriksa kadar gula darah dan trigliserida, mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, menjaga pola makan sehat, serta tetap aktif bergerak. Pengendalian penyakit penyerta, termasuk diabetes dan gangguan jantung, juga menjadi bagian penting dalam upaya mencegah komplikasi.

Melalui pemeriksaan sederhana seperti ITG, dokter dapat menentukan strategi penanganan yang lebih tepat sesuai kondisi masing-masing pasien. Penyintas stroke dan keluarga juga diimbau untuk aktif berdiskusi dengan tenaga kesehatan mengenai kondisi pasca-stroke, termasuk kemungkinan melakukan perhitungan ITG sebagai bagian dari penilaian risiko.

Pasien jangan merasa cukup hanya karena sudah dapat berjalan kembali atau hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan kondisi yang baik. Menjaga kadar gula darah dan lemak darah tetap terkontrol merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung dan otak dalam jangka panjang.

Dengan rehabilitasi yang rutin, pengelolaan faktor risiko yang baik, serta dukungan keluarga, kualitas hidup penyintas stroke dapat terus ditingkatkan sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.

(Sumber:kemkes.go.id)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....