Waspadai Hamil Anggur, Deteksi Dini Cegah Komplikasi Serius

  • 24 Jun 2026 08:09 WIB
  •  Manado

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

RRI.CO.ID, Manado – Hamil anggur atau dalam istilah medis mola hidatidosa merupakan kondisi kehamilan langka yang sering kali sulit dibedakan dengan kehamilan normal pada tahap awal. Karena memiliki gejala yang mirip, banyak wanita tidak menyadari kondisi ini hingga dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis.

Dikutip dari Kementerian Kesehatan RI kemkes.go.id hamil anggur terjadi ketika jaringan yang seharusnya berkembang menjadi plasenta tumbuh secara tidak normal dan membentuk kumpulan kantong berisi cairan yang menyerupai buah anggur. Kondisi ini termasuk dalam kelompok penyakit trofoblastik gestasional dan memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah komplikasi.

Secara umum, terdapat dua jenis hamil anggur, yaitu complete mole (mola hidatidosa lengkap) dan partial mole (mola hidatidosa parsial). Pada complete mole, tidak terdapat janin yang berkembang, sedangkan pada partial mole dapat ditemukan jaringan janin yang tumbuh tidak normal.

Pada awal kehamilan, gejala hamil anggur sering menyerupai kehamilan normal, seperti terlambat menstruasi, hasil test pack positif, mual, muntah, dan payudara yang terasa lebih sensitif. Namun, kondisi ini terjadi akibat kelainan genetik sejak proses pembuahan sehingga perkembangan plasenta dan janin tidak berlangsung sebagaimana mestinya.

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) menjadi salah satu cara penting untuk membedakan hamil anggur dengan kehamilan normal. Pada kehamilan normal, USG akan menunjukkan kantong kehamilan dan janin dengan detak jantung. Sebaliknya, pada hamil anggur sering terlihat gambaran menyerupai "badai salju" atau kumpulan kista kecil tanpa adanya janin yang berkembang secara normal.

Selain itu, kadar hormon kehamilan atau human chorionic gonadotropin (hCG) pada penderita hamil anggur umumnya jauh lebih tinggi dibandingkan kehamilan normal pada usia kehamilan yang sama. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala yang lebih berat, seperti mual dan muntah berlebihan serta pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan.

Penyebab Hamil Anggur

Hamil anggur terjadi akibat proses pembuahan yang tidak normal. Pada hamil anggur lengkap, sperma membuahi sel telur yang tidak memiliki materi genetik. Akibatnya, plasenta berkembang secara abnormal tanpa terbentuknya embrio.

Sementara itu, pada hamil anggur parsial, dua sel sperma membuahi satu sel telur secara bersamaan. Kondisi ini menyebabkan terbentuknya jaringan plasenta yang abnormal dan janin yang tidak berkembang dengan sempurna.

Faktor Risiko

Beberapa faktor diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya hamil anggur, antara lain:

• Kehamilan pada usia di atas 35 tahun.

• Memiliki riwayat hamil anggur sebelumnya.

• Pernah mengalami keguguran.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Meskipun pada awalnya menyerupai kehamilan normal, terdapat sejumlah tanda khas yang perlu mendapat perhatian, yaitu:

  1. Perdarahan dari vagina pada trimester pertama kehamilan.
  2. Mual dan muntah yang sangat berat (hyperemesis gravidarum).
  3. Ukuran rahim yang lebih besar atau lebih kecil dibanding usia kehamilan.
  4. Keluarnya cairan berwarna kecokelatan atau gumpalan menyerupai buah anggur dari vagina.
  5. Nyeri perut bagian bawah atau tekanan pada panggul.
  6. Kadar hormon hCG yang sangat tinggi.
  7. Munculnya komplikasi seperti anemia, hipertiroidisme, atau preeklampsia dini.
    Pentingnya Pemeriksaan Kehamilan Rutin
    Karena gejalanya sulit dikenali pada tahap awal, para ahli menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Deteksi dini melalui pemeriksaan dokter dan USG dapat membantu memastikan kondisi kehamilan serta memungkinkan penanganan yang cepat apabila ditemukan tanda-tanda hamil anggur.
    Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke dokter kandungan apabila mengalami perdarahan saat hamil, mual muntah berlebihan, atau gejala lain yang tidak biasa selama masa kehamilan. Penanganan yang cepat dapat membantu mencegah komplikasi dan menjaga kesehatan ibu.
    (Sumber:kemkes.go.id)
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....