Manfaat Shalat Dhuha bagi Kesehatan Mental Tunadaksa
- 31 Mei 2026 18:29 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Di tengah persaingan hidup yang semakin ketat, tekanan psikologis menjadi tantangan yang dihadapi banyak orang dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan mencari penghidupan. Stres, kecemasan, hingga rasa tidak percaya diri kerap muncul ketika seseorang berhadapan dengan berbagai keterbatasan dan tuntutan hidup.
Kondisi tersebut sering kali dirasakan lebih berat oleh penyandang disabilitas fisik, khususnya tunadaksa. Selain menghadapi hambatan mobilitas, mereka tidak jarang berhadapan dengan stigma sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis. Perasaan minder, tidak berdaya, bahkan putus asa dapat muncul apabila seseorang terus-menerus memusatkan perhatian pada keterbatasan yang dimilikinya.
Dalam perspektif Islam, salah satu amalan yang diyakini dapat membantu membangun ketenangan batin adalah shalat Dhuha. Ibadah sunnah yang dilakukan pada waktu pagi ini tidak hanya dipandang sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, tetapi juga sebagai sarana membangun optimisme, rasa syukur, dan semangat menjalani kehidupan.
Dari sudut pandang ilmu saraf atau neurosains, aktivitas otak manusia bekerja melalui sinyal listrik yang menghasilkan berbagai pola gelombang. Ketika seseorang berada dalam kondisi cemas, tertekan, atau dipenuhi beban pikiran, aktivitas otak cenderung didominasi gelombang Beta tinggi yang berkaitan dengan kewaspadaan dan respons terhadap tekanan. Kondisi ini juga berkaitan dengan meningkatnya produksi hormon stres seperti kortisol.
Saat seseorang melaksanakan shalat dengan tenang dan penuh kekhusyukan, termasuk ketika menjalankan shalat Dhuha, sejumlah penelitian menunjukkan adanya perubahan kondisi fisiologis yang mendorong tubuh menuju keadaan lebih rileks. Gerakan yang dilakukan secara perlahan, disertai konsentrasi dan doa, dapat membantu menghadirkan kondisi yang oleh sebagian peneliti dikaitkan dengan meningkatnya aktivitas gelombang Alfa, yakni kondisi otak yang berhubungan dengan relaksasi, ketenangan, dan fokus yang lebih baik.
Pada fase tersebut, tubuh juga berpotensi meningkatkan produksi neurotransmiter yang berperan dalam menciptakan perasaan nyaman dan bahagia, seperti serotonin. Jika praktik ini dilakukan secara konsisten, para ahli menyebut adanya kemungkinan terjadinya neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak membentuk jalur saraf baru sebagai respons terhadap pengalaman dan kebiasaan yang dilakukan berulang kali.
Dalam konteks psikologis, proses tersebut dapat membantu seseorang mengurangi pola pikir negatif yang selama ini mendominasi kehidupannya. Rasa rendah diri, trauma, atau kecenderungan menyalahkan diri sendiri perlahan dapat tergantikan oleh sikap penerimaan diri (self-compassion), yaitu kemampuan menerima kondisi diri dengan penuh kesadaran dan kasih sayang.
Bagi penyandang tunadaksa, perubahan cara pandang ini memiliki dampak yang signifikan. Fokus yang semula tertuju pada apa yang hilang dari dirinya dapat bergeser menjadi perhatian terhadap potensi yang masih dimiliki. Dari titik inilah kepercayaan diri mulai tumbuh dan seseorang lebih siap melihat peluang yang tersedia di sekitarnya.
Dalam kajian neurosains, kondisi mental yang tenang dan fokus juga kerap dikaitkan dengan munculnya aktivitas gelombang Gamma, yang berhubungan dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi, kreativitas, pemecahan masalah, serta munculnya inspirasi atau intuisi. Ketika seseorang berada dalam kondisi psikologis yang stabil, kemampuannya untuk melihat peluang dan mengambil keputusan secara kreatif cenderung meningkat.
Bagi penyandang tunadaksa yang memiliki keterbatasan mobilitas fisik, kemampuan berpikir kreatif menjadi modal yang sangat penting. Peluang usaha berbasis digital, industri kreatif, pekerjaan jarak jauh, maupun bisnis yang bertumpu pada gagasan dan pengetahuan kini semakin terbuka. Dalam situasi tersebut, ketajaman berpikir sering kali menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibandingkan kekuatan fisik semata.
Perspektif ilmiah tersebut menarik untuk disandingkan dengan ajaran Islam mengenai keutamaan shalat Dhuha. Dalam Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Allah SWT berfirman agar seorang hamba tidak meninggalkan empat rakaat pada awal hari, dan Allah akan mencukupkan kebutuhannya hingga akhir hari. Bagi umat Islam, hadis ini menjadi sumber keyakinan bahwa shalat Dhuha merupakan salah satu ikhtiar spiritual untuk memohon kecukupan rezeki dan keberkahan hidup.
Selain itu, dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa setiap manusia memiliki 360 persendian yang perlu disyukuri, dan dua rakaat shalat Dhuha dapat menjadi bentuk sedekah yang mewakili rasa syukur tersebut. Bagi penyandang tunadaksa, pesan ini memiliki makna yang mendalam karena menegaskan bahwa keterbatasan fisik tidak mengurangi nilai ibadah dan kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Konsistensi menjalankan shalat Dhuha pada akhirnya dapat menjadi sarana membangun ketahanan mental, optimisme, dan semangat hidup. Ketenangan yang lahir dari kedekatan spiritual mendorong seseorang untuk lebih percaya diri menghadapi berbagai tantangan, sekaligus lebih terbuka terhadap peluang yang ada di sekitarnya.
Perubahan tersebut juga dapat memengaruhi cara masyarakat memandang penyandang disabilitas. Jika sebelumnya mereka sering diposisikan sebagai pihak yang membutuhkan belas kasihan, maka melalui karya, prestasi, dan kemandirian yang ditunjukkan, pandangan itu dapat bergeser menjadi penghormatan dan apresiasi.
Pada akhirnya, rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk materi semata. Rezeki juga dapat berupa kesehatan mental, ketenangan hati, ide-ide kreatif, jaringan pertemanan yang luas, kesempatan berkarya, serta kemampuan memberi manfaat bagi orang lain. Dalam kerangka itulah shalat Dhuha dipahami bukan sekadar ritual ibadah pagi, melainkan sebagai ikhtiar spiritual yang dapat membantu penyandang disabilitas membangun kembali harapan, mengembangkan potensi diri, dan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan untuk meraih kehidupan yang lebih bermakna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....