IMB Lombok dan UNW Mataram Sosialisasi Dampak Perkawinan Anak
- 17 Mei 2026 08:14 WIB
- Mataram
Poin Utama
- Mahasiswa UNW Mataram dan Bumi Gora Sosialisasi Bahaya Perkawinan Anak
- Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram bersama Ikatan Mahasiswa Bumigora (IMB) Lombok Tengah menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan usia anak
RRI.CO.ID, Lombok Tengah - Ikatan Mahasiswa Bumigora (IMB) Lombok Tengah bersama Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi dan pencegahan pernikahan usia anak di Desa Bangket Parak, Kecamatan Pujut, Sabtu, 16 Mei 2026. Desa tersebut disebut sebagai salah satu wilayah dengan angka pernikahan anak yang masih tinggi di Lombok Tengah.
Kegiatan bertema Optimalisasi Kesehatan Masyarakat dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini Demi Mewujudkan Generasi Emas itu juga dirangkaikan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga. Sedikitnya 80 warga mengikuti layanan kesehatan yang didukung oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Puskesmas Teruwai, dan Rumah Sakit Mandalika Lombok Tengah.
Peserta sosialisasi berasal dari sejumlah sekolah di Kecamatan Pujut, mulai dari SMA 2 Pujut, SMKN 1 Pujut, MAN 3 Pujut, hingga siswa SMP dan SDN Rinjani Sangi.
Ketua LPA NTB Saparudin Efendi mengatakan tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan adanya kepedulian terhadap masa depan anak-anak. Menurut dia, pernikahan usia dini masih menjadi ancaman serius karena membuat anak kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan dan mengembangkan potensi diri.
“Dampaknya tidak hanya pada pendidikan, tetapi juga memicu lingkaran kemiskinan dan rendahnya kualitas hidup yang terus berulang antar generasi,” kata Saparudin.
Ia menjelaskan, dari sisi kesehatan, kehamilan pada usia muda berisiko menimbulkan komplikasi bagi ibu dan bayi karena kondisi fisik maupun mental remaja belum matang sepenuhnya. Selain itu, anak yang menikah di usia dini juga rentan mengalami konflik rumah tangga hingga perceraian akibat belum siap secara psikologis.
Menurut Saparudin, pencegahan pernikahan anak merupakan bagian penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia. “Anak-anak seharusnya berada pada fase belajar dan membangun cita-cita, bukan dibebani tanggung jawab rumah tangga sebelum waktunya,” ujarnya.
Pembina IMB Lombok Tengah Sumaji mengatakan pelajar dipilih sebagai sasaran utama sosialisasi karena isu pernikahan anak masih menjadi tantangan pembangunan di NTB. Ketua IMB Lombok Tengah Sujiadi menambahkan, kegiatan serupa sebelumnya juga pernah digelar di sejumlah kecamatan, namun partisipasi terbesar terjadi di Desa Bangket Parak.
“Ke depan kami ingin semua organisasi pemuda di Lombok Tengah bergerak bersama mengangkat isu perlindungan anak dan pencegahan pernikahan dini,” kata Sujiadi.
Ketua BEM FIK UNW Mataram Aura Athiyah Amarga mengatakan edukasi kesehatan dan pendidikan masyarakat masih menjadi fokus kegiatan mahasiswa di berbagai daerah. Ia menilai kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam menjalankan program sosial di masyarakat.
Sementara itu, dokter umum RS Mandalika, M. Dedy Kusnadi, menjelaskan pernikahan usia dini berisiko besar terhadap kesehatan reproduksi remaja, terutama perempuan di bawah 20 tahun.
Menurut dia, organ reproduksi remaja belum berkembang sempurna sehingga rentan mengalami komplikasi saat kehamilan, seperti anemia, persalinan prematur, hingga preeklamsia. Selain itu, remaja perempuan juga lebih berisiko terkena kanker serviks akibat sel leher rahim yang belum matang.
“Kurangnya edukasi juga meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual, termasuk HIV. Karena itu anak-anak perlu menjaga pergaulan dan menghindari pernikahan dini,” kata Dedy.
Puskesmas Teruwai yang turut mendukung kegiatan itu menyebut pemeriksaan kesehatan gratis merupakan bagian dari program pemerintah dengan target 150 warga per hari. Pihak puskesmas menilai Desa Bangket Parak menjadi lokasi penting untuk skrining kesehatan sekaligus penguatan upaya promotif dan preventif di masyarakat.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penguatan kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat serta menekan angka pernikahan usia anak di Lombok Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....