Bahaya Narkoba untuk Kesehatan Mental
- 09 Apr 2026 13:42 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Narkoba tidak hanya merusak organ-organ vital seperti hati, jantung, dan paru-paru, tetapi juga menimbulkan dampak yang jauh lebih berbahaya bagi kesehatan mental penggunanya. Setiap tahun, jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia terus merangkak naik, dengan data Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat sebanyak 2,2 juta remaja di Indonesia menjadi pengguna narkoba.
Bahaya yang mengintai tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga merusak fungsi otak dan sistem kejiwaan secara permanen jika tidak segera ditangani.
Mengutip ayosehat.kemkes.go.id, penyalahgunaan narkoba dapat menyebabkan gangguan mental serius seperti depresi, skizofrenia, gangguan bipolar, hingga demensia. Zat-zat berbahaya dalam narkoba mempengaruhi batang otak yang mengatur organ vital, sistem limbik yang mengendalikan emosi, serta korteks serebral sebagai pusat berpikir dan pengambilan keputusan. Akibatnya, fungsi otak terganggu dan muncul ketergantungan yang semakin sulit dihilangkan seiring berjalannya waktu.
Salah satu gangguan mental yang paling umum dialami pengguna narkoba adalah depresi berat. Penggunaan narkoba golongan opioid dalam jangka panjang dapat meningkatkan ambang batas rasa bahagia, sehingga dibutuhkan lebih banyak zat untuk mendapatkan efek yang sama.
Pada akhirnya, yang muncul justru disforia alias perasaan murung, sedih, tidak puas diri, hingga risiko bunuh diri yang mengintai setiap saat. Kondisi ini semakin parah karena pengguna sering kali kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.
Jenis narkoba seperti ganja, ekstasi, dan sabu juga terbukti memicu gangguan psikotik kronis seperti skizofrenia. Bahan kimia psikoaktif dalam ganja, yaitu delta-9-tetrahydrocannabinol (THC), berinteraksi dengan reseptor di otak yang mengganggu keterampilan motorik, memori, serta kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan paranoid, halusinasi, delusi, dan pemikiran tidak teratur yang menjadi ciri khas skizofrenia. Semakin muda usia seseorang mulai menggunakan ganja, semakin besar pula kemungkinannya mengidap gangguan kejiwaan ini.
Gangguan bipolar juga menjadi momok menakutkan bagi para pecandu narkoba, terutama pengguna kokain, amfetamin, opiat, dan ganja. Zat-zat tersebut secara cepat meningkatkan kadar dopamin di otak sehingga menimbulkan euforia sesaat, namun setelah efeknya hilang, pengguna akan merasa sangat lelah, mudah tersinggung, bingung secara mental, dan jatuh dalam depresi berkepanjangan.
Perubahan emosi yang drastis dari rasa senang ekstrem menjadi depresi parah ini membuat pengguna kehilangan kendali atas hidupnya. Tidak jarang, mereka akhirnya terlibat dalam tindak kriminal seperti pencurian, kekerasan, hingga perdagangan ilegal untuk memenuhi kebutuhan zat adiktifnya.
Selain itu, penggunaan narkoba jenis sabu dan ekstasi dalam jangka panjang terbukti merusak fungsi kognitif secara signifikan. Kedua zat stimulan ini merusak sistem dopamin di otak, sehingga menimbulkan masalah dengan memori, proses pembelajaran, gerakan, dan regulasi emosional.
Pengguna jangka panjang dapat mengalami kebingungan mental, kecemasan berlebihan, penurunan daya ingat, hingga demensia yang biasanya hanya terjadi pada usia lanjut. Kemampuan untuk belajar, berkonsentrasi, dan mengambil keputusan pun menurun drastis, yang pada akhirnya menghancurkan masa depan penggunanya.
Keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran sentral dalam mencegah jatuhnya korban baru bahaya narkoba bagi kesehatan mental. Kehadiran keluarga yang harmonis, aman, dan nyaman dapat menjadi benteng pertama bagi anak dan remaja dari pengaruh buruk pergaulan.
Jika sudah terlanjur terjebak dalam penyalahgunaan narkoba, segera cari bantuan profesional seperti psikolog, konselor, atau fasilitas rehabilitasi terdekat karena semakin cepat ditangani, semakin besar peluang untuk pulih dari ketergantungan dan gangguan mental yang menyertainya. Ingatlah bahwa narkoba adalah musuh bersama, dan hanya dengan kewaspadaan serta kebersamaan kita dapat melindungi generasi bangsa dari ancaman yang menghancurkan masa depan ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....