Bijak dan Tips Atur Pola Makan Sehat Lebaran

  • 25 Mar 2026 08:32 WIB
  •  Mataram
Poin Utama
  • Lebaran identik kue tinggi kalori dan makanan bersantan. Batasi porsi, pilih lebih banyak protein daripada kuah, imbangi sayur, buah, dan air putih. Terapkan “Isi Piringku” agar tetap sehat tanpa melewatkan momen.

RRI.CO.ID, Mataram - Momen Idul Fitri selalu identik dengan kebersamaan, silaturahmi, dan hidangan khas yang menggugah selera. Setelah sebulan berpuasa, meja makan dipenuhi aneka sajian lezat—mulai dari makanan bersantan hingga kue-kue kering yang renyah, manis, dan gurih. Tak heran, suasana hangat ini sering membuat kita “kalap” menikmati hidangan tanpa memperhitungkan jumlah kalori yang masuk ke tubuh.

Dalam talkshow “Sore Ceria” Pro 2 Mataram, ahli gizi Zara Fitria, S.Gz. mengulas bahwa kue lebaran memang menggoda, namun tetap perlu dikontrol porsinya. Beberapa jenis kue yang umum disajikan ternyata memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi meski ukurannya kecil.

Untuk kue nastar dengan berat sekitar 20 gram per biji, mengandung sekitar 20 kalori dengan komposisi protein 1,1 gram, lemak 2,1 gram, dan karbohidrat 12,6 gram. Sementara itu, putri salju dengan berat 6 gram per biji mengandung sekitar 30 kalori, terdiri dari protein 0,6 gram, lemak 2 gram, dan karbohidrat 2,4 gram. Kastengel yang gurih memiliki sekitar 33 kalori per biji (8 gram), dengan kandungan protein 0,7 gram, lemak 1,7 gram, dan karbohidrat 3,4 gram.

Tak kalah populer, kue sagu keju dengan berat 6 gram per biji mengandung sekitar 28 kalori, sedangkan kue semprit yang sedikit lebih besar (12 gram) bisa mencapai 57 kalori per biji. Dari angka ini, terlihat bahwa konsumsi beberapa potong saja sudah bisa menumpuk kalori dalam jumlah signifikan jika tidak disadari.

Selain kue, hidangan utama Lebaran seperti opor ayam, rendang, dan gulai juga menjadi perhatian. Menurut narasumber, cara bijak menikmatinya adalah dengan lebih banyak mengambil daging dibandingkan kuah santannya. Daging kaya akan protein yang dibutuhkan tubuh, sementara konsumsi santan berlebih terutama yang sering dipanaskan ulang dapat meningkatkan risiko lemak jahat dalam tubuh.

Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tinggi lemak santan dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti kolesterol tinggi, hipertensi, hingga kambuhnya asam urat. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan pola makan, terutama di momen hari raya yang penuh godaan kuliner.

Lebih lanjut, prinsip “lebih baik mencegah daripada mengobati” menjadi pesan penting dalam menjaga kesehatan. Kita dihadapkan pada pilihan sederhana: lelah menjaga pola hidup sehat, atau lelah menghadapi penyakit dan pengobatan.

Untuk menyeimbangkan asupan, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi serat dari buah dan sayur serta rutin minum air putih. Pola makan sehat seharusnya tidak hanya dilakukan saat diet, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari, termasuk saat Lebaran.

Sebagai panduan, konsep Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan dapat diterapkan. Dalam satu piring, setengahnya diisi sayur dan buah, sementara setengah lainnya terdiri dari sumber karbohidrat dan protein. Dengan pola ini, tubuh tetap mendapatkan nutrisi seimbang meski menikmati hidangan Lebaran.

Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang menikmati makanan, tetapi juga menjaga kesehatan agar tetap bisa merayakan momen kebersamaan dengan penuh kebahagiaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....