FoR PKBI NTT : Dampak Sampah pada Masalah Kesehatan Reproduksi

  • 19 Mar 2026 15:14 WIB
  •  Kupang

RRI.CO.ID, Kupang - Isu sampah plastik kini tidak hanya sekadar persoalan lingkungan semata, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia, termasuk kesehatan reproduksi. Dalam diskusi bersama anggota Forum Remaja PKBI NTT, Talia Manggas pada, Kamis 17 Maret 2026 menjelaskan, persoalan mikroplastik diangkat sebagai ancaman tersembunyi yang semakin mengkhawatirkan bagi generasi muda.

Talia mengungkapkan bahwa mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang bahkan tidak kasat mata. “Mikroplastik itu sebenarnya partikel kecil plastik yang ukurannya di bawah 5 mm, bahkan ada yang lebih kecil lagi disebut nanoplastik, dan itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, minuman, udara, hingga pakaian,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan mikroplastik tidak lepas dari tingginya penggunaan plastik yang tidak diimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik. Indonesia sendiri disebut sebagai salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, sehingga memperbesar risiko paparan mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perjalanan sampah plastik hingga masuk ke tubuh manusia terjadi melalui proses panjang yang sering tidak disadari. Sampah yang terurai menjadi partikel kecil dapat mencemari tanah dan air, kemudian diserap oleh tanaman atau dikonsumsi oleh hewan laut, hingga akhirnya kembali ke manusia melalui rantai makanan.

Dampaknya terhadap kesehatan reproduksi pun tidak bisa dianggap sepele, karena mikroplastik dapat mengganggu sistem hormonal dalam tubuh. “Mikroplastik ini bisa berkamuflase dalam tubuh, bahkan mengganggu hormon seperti estrogen pada perempuan dan memengaruhi kualitas sperma pada laki-laki, sehingga berdampak pada kesuburan dan kesehatan generasi berikutnya,” jelas Kak Talia.

Bahaya utama dari partikel ini adalah kemampuannya untuk "menipu" sistem kekebalan tubuh dengan berkamuflase menyerupai sel tubuh manusia. Ketika masuk ke sistem reproduksi, mikroplastik dapat mengganggu hormon estrogen pada perempuan dan memengaruhi kualitas sperma pada laki-laki secara signifikan.

Dampak jangka panjang dari kontaminasi ini sangat serius, termasuk potensi gangguan menstruasi hingga risiko cacat pada janin akibat sel telur yang terpapar polutan. Talia menegaskan dalam wawancara, "Kalau di terkena terhadap sel telur perempuan, nanti sel telur kita yang bakal menjadi anak kita itu bisa terkontaminasi mikroplastik dan membuat perkembangannya tidak baik."

Kehadiran mikroplastik dalam plasenta dan air ketuban yang ditemukan dalam penelitian terbaru membuktikan bahwa isu ini bukan lagi sekadar masalah lingkungan, melainkan ancaman nyata bagi generasi mendatang. Oleh karena itu, kesadaran remaja untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai menjadi kunci utama dalam memutus rantai polusi yang masuk ke tubuh.

Melihat kondisi tersebut, Forum Remaja PKBI NTT mengajak generasi muda untuk lebih sadar dan bijak dalam menggunakan plastik. Upaya sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, serta aktif mengedukasi lingkungan sekitar dinilai menjadi langkah awal yang penting untuk melindungi kesehatan diri dan masa depan generasi.

Kolaborasi antara kebijakan pemerintah yang tegas dan perubahan gaya hidup masyarakat sangat dibutuhkan agar kita tidak menjadi generasi yang sakit akibat kelalaian mengelola sampah. (AK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....